Penutupan Selat Hormuz menyusul adanya konflik Amerika Serikat dan Iran segera masuk hari ke-100. Ini artinya, hampir 100 hari dunia dilanda ketidakpastian akibat tersendatnya distribusi barang dan lalu lintas yang melintasi Selat Hormuz. Wilayah yang memegang peran penting terutama untuk lalu lintas 20 persen pasokan minyak global itu masih menjadi ‘korban’ dari belum tercapainya kesepakatan perundingan antara AS dan Iran.
Penutupan Selat Hormuz memberikan dampak yang luas bagi perekonomian global. Tak terkecuali Indonesia, yang memiliki ketergantungan impor untuk sejumlah komoditas. Media nasional memberikan perhatian besar atas penutupan Selat Hormuz, terutama dampaknya pada Indonesia.
Dengan menggunakan alat big data Newstensity, Jangkara membuat analisis tentang dampak penutupan Selat Hormuz pada Indonesia. Data diperoleh dengan menggunakan kata kunci Selat Hormuz, untuk periode pemberitaan 28 Februari hingga 12 April 2026. Pada periode ini, tercatat 16.337 berita relevan terkait perang AS–Iran dan Selat Hormuz. Puncak eksposur terjadi pada 3 Maret 2026, ketika media menyoroti lonjakan harga minyak yang menembus level psikologis USD100 per barel.
Sentimen negatif menjadi yang terbesar dengan porsi 45%, terutama didorong kekhawatiran atas terganggunya suplai energi global, kenaikan harga minyak, dan risiko terhadap Indonesia sebagai negara pengimpor energi. Sentimen positif tetap muncul, terutama setelah adanya sinyal pembukaan kembali jalur dengan syarat tertentu oleh Iran, sementara sentimen netral lebih banyak berasal dari laporan pasar dan pergerakan IHSG.
Fokus utama pemberitaan bergeser dari konflik militer ke dampak fiskal dan pasar keuangan. Perhatian media mengarah pada implikasi praktis seperti subsidi energi, pelemahan rupiah, tekanan terhadap IHSG, serta potensi dampak ke APBN dibanding dinamika militer itu sendiri. Ini menandakan bahwa risiko ekonomi domestik menjadi sudut pandang paling dominan dalam membahas penutupan Selat Hormuz.
Di tengah tekanan tersebut, krisis ini juga membuka peluang bagi sektor berbasis ekspor dan komoditas. Sektor yang berpotensi diuntungkan adalah perusahaan ekstraktif berorientasi ekspor seperti batubara, sawit, aluminium, nikel, serta bisnis terkait ammonia dan pupuk. Pelemahan rupiah memberi keuntungan translasi bagi pendapatan berbasis dolar, sementara kenaikan harga komoditas menciptakan windfall bagi pelaku tertentu.
Sejauh mana dampak penutupan Selat Hormuz pada industri, dapat dibaca pada laporan khusus Jangkara berikut.