Sebuah kalimat aneh muncul secara repetitif di media sosial, khususnya di Threads. “Aldis Burger Cempaka Putih rotinya lembut dagingnya juicy luicy mahalini rizky febian bisa pesan online”. Kalimat tersebut berseliweran di mana saja, mulai di postingan selebritis, berita, meme, bahkan unggahan-unggahan yang sama sekali tidak berhubungan dengan makanan. Kalimat ini lebih mirip spam mengganggu yang membuat orang risih. Namun, justru di situlah letak keunikannya.
Kalimat tersebut rupanya bagian dari promosi Aldi’s Burger, sebuah kedai burger yang dimiliki oleh selebritas Aldi Taher. Aldi adalah figur lama di industri hiburan Indonesia. Karir hiburannya dapat ditarik sejak awal tahun 2000-an di berbagai bidang, mulai dari penyanyi, pemain band, aktor, dan bahkan pernah hampir menjadi calon legislatif di dua partai politik.
Selama perjalanan karirnya, Aldi mengalami berbagai perubahan persona. Jika dulu dikenal sebagai figur yang memiliki kesan keren sebagai pemain band dan aktor muda, kini Aldi dikenal dengan citra sebagai selebritas dengan polah absurd dan komentar-komentar nyeleneh.
Pendekatan yang dilakukan Aldi untuk mempromosikan Aldi’s Burger condong ke citranya akhir-akhir ini. Komentar promosi yang secara getol ditulis Aldi di berbagai unggahan akhirnya berhasil mendapatkan perhatian publik. Alih-alih sekadar dianggap komentar spam, komentar Aldi menjadi viral. Gaung Aldi’s Burger pun teramplifikasi secara masif dan bahkan berhasil dikonversikan menjadi penjualan.
Nyeleneh adalah Kunci
Kata-kata “Aldis Burger Cempaka Putih rotinya lembut dagingnya juicy luicy mahalini rizky febian bisa pesan online” menjadi salah satu kunci utama viralnya promosi Aldi Taher. Aldi secara janggal menggabungkan promosi burgernya dengan entitas kenamaan. Ia tidak cukup hanya menonjolkan daging burgernya yang empuk atau juicy, tetapi diteruskan dengan nama band terkenal Juicy Lucy dan masih berlanjut dengan Mahalini dan Rizky Febian, dua penyanyi papan atas Indonesia.
Susunan kata yang absurd ini diulang oleh Aldi dan secara konsisten muncul di berbagai unggahan dengan engagement tinggi. Otomatis, komentar Aldi ikut terbaca dan mencuri perhatian sedikit demi sedikit. Kalimat nyeleneh yang seperti spam ini akhirnya secara drastis berhasil meningkatkan brand awareness pengguna media sosial terhadap Aldi’s Burger.
Murah, tapi Hasilnya Meriah
Aldi juga memecahkan masalah promosi tidak harus mahal. Komentar-komentarnya berbiaya nyaris nol rupiah, tetapi dampaknya masif. Dengan bermodalkan jempol, Aldi berhasil membuat awareness tinggi yang bahkan sulit dicapai oleh kampanye berbiaya besar.

Viralnya Aldi’s Burger juga terdengar oleh para influencer. Aldi’s Burger sempat didatangi beberapa food vlogger kenamaan, seperti Nex Carlos dan Ken & Grat yang memiliki jutaan follower di Youtube. Kehadiran para kreator ini secara otomatis memperluas eksposur Aldi’s Burger pada para pengikut mereka. Para selebritas pun memberikan respons positif dengan viralnya Aldi’s Burger. Warganet yang sudah mencoba juga memberikan respons positif.

Gambar 2. Perbandingan ukuran burger di Aldi’s Burger
Bermodalkan kampanye murah, Aldi’s Burger menjual produk yang relatif terjangkau. Menunya pun tidak aneh-aneh, hanya burger. Aldi’s Burger hanya memiliki tiga menu burger, yaitu Brother yang berukuran kecil dengan harga Rp25 ribu, Big Brother berukuran sedang dengan harga Rp29 ribu, dan Gallagher berukuran jumbo dengan harga Rp65 ribu. Harga ini membuat produk Aldi’s Burger dapat menjangkau berbagai kalangan.
Kombinasi viral dan harga yang ramah di kantong menempatkan Aldi’s Burger di posisi yang menarik. Viralitas Aldi’s Burger yang sudah terbangun di media sosial mengundang rasa penasaran publik. Sementara harga yang terjangkau berperan mengurangi hambatan masyarakat untuk bisa membeli produk tersebut. Artinya, keduanya saling mendukung untuk mengkonversikan rasa penasaran di dunia maya menjadi pembelian di dunia nyata. Review yang positif atas rasa Aldi’s Burger juga bisa menjadi modal yang cukup kuat. Jika Aldi’s Burger terus berinovasi dengan meluncurkan produk-produk yang variatif, bukan tidak mungkin gerainya bisa tumbuh dengan pesat.
Hanya Aldi Taher yang Bisa Menjadi Aldi Taher
Strategi pemasaran yang dilakukan Aldi Taher terlihat sederhana, tetapi akan sukar ditiru oleh brand lain. Promosi Aldi’s Burger yang berhasil tidak hanya bertumpu pada uniknya kalimat yang diulang secara terus-menerus, tetapi kunci utamanya adalah karena Aldi Taher sendiri yang melakukannya.
Selama beberapa tahun terakhir, Aldi dikenal masyarakat sebagai entertainer yang absurd, figur meme, dan kerap melakukan hal-hal spontan. Hal itu terekspos media dan media sosial sehingga membangun citra Aldi yang seperti itu. Karakter Aldi yang kuat dan otentik ini akhirnya tertuang menjadi kalimat absurd untuk mengkampanyekan Aldi’s Burger.
Promosi yang Aldi Taher sekali ini kemudian menjadi hal yang menarik untuk dibicarakan masyarakat. Ada unsur meme yang menyenangkan dan viral sehingga membuat orang untuk ikut bergabung sehingga jangkauannya semakin luas. Lagi-lagi, kekuatan personal branding Aldi menjadi pendorong utamanya.
Jika brand lain melakukan strategi yang sama, kemungkinan besar respons publik akan berbeda. Pengulangan komentar yang berulang dapat dianggap sebagai spam yang mengganggu sehingga merusak citra brand. Tanpa adanya personal branding yang kuat, promosi serupa berpotensi akan gagal.
Pada akhirnya, strategi pemasaran di era media sosial adalah soal mencari keunikan. Brand tidak hanya bersaing dalam kualitas produk atau seberapa bagus media promosi yang dibuat, tetapi brand wajib mencuri perhatian masyarakat di tengah derasnya arus informasi. Maka dari itu, keunikan akan menjadi pembeda sekaligus penentu untuk memenangkan persaingan.
Guerilla Marketing di Era Media Sosial
Strategi Aldi Taher dapat dikatakan sebagai sebuah bentuk guerilla marketing. Konsep ini merujuk pada pendekatan promosi yang tidak konvensional, berbiaya rendah, tetapi mampu menciptakan dampak besar melalui kreativitas dan spontanitasnya. Berbeda dengan kampanye pemasaran konvensional yang mengandalkan anggaran besar untuk iklan, guerilla marketing justru memanfaatkan momentum, ruang publik, dan memanfaatkan perhatian audiens untuk memperluas jangkauan pesan.
Pendekatan yang dilakukan Aldi Taher memiliki kesamaan dengan pendekatan tersebut. Aldi tidak memasang iklan, tetapi ia memilih membuat komentar promosi di berbagai unggahan media sosial yang memiliki engagement tinggi. Cara ini membuat pesan promosi muncul di ruang-ruang yang tidak terduga dan secara perlahan menarik perhatian para pengguna media sosial.
Kalimat promosi tersebut tersusun secara unik dan terus bermunculan yang kemudian rasa penasaran publik. Adanya unsur meme yang khas Aldi Taher membuat rasa pensaran ini membuat pengguna media sosial tertarik dan ikut mengamplifikasi pesannya. Ujungnya, Aldi’s Burger viral.
Di era media sosial, ruang publik tidak hanya terbatas pada ruang fisik seperti jalan. Ruang digital kini sudah menjadi ruang publik yang paling dekat dan sangat mudah diakses oleh banyak orang untuk berinteraksi satu dengan lain. Maka dari itu, strategi pemasaran perlu secara kreatif mungkin memanfaatkan kolom komentar, timeline, algoritma, dan unsur-unsur lain yang ada di ruang digital. Fenomena Aldi’s Burger ini sendiri menunjukkan bahwa dengan pendekatan yang tepat, promosi yang bentuknya sederhana sekalipun dapat mencuri perhatian publik dari bisingnya informasi di media sosial dan bahkan mampu menjadi hal yang viral.
Pemantauan Media

Grafik 1. Statistik keyword “Aldis Burger” di X (sumber: Socindex)
Dari tangkapan Socindex pada keyword “aldis burger” di X selama 7-12 Maret 2026, percakapan mengenai Aldi’s Burger berasal dari sebanyak 297 talks dan menghasilkan 80.441 applause dengan total 96.591 engagement. Topik ini menjangkau sekitar 5,5 juta audiens, menunjukkan bahwa viralnya Aldi’s Burger berhasil menjadi bahan perbincangan di media sosial dan memicu interaksi yang cukup luas.

Grafik 2. Bot score keyword “Aldis Burger” di X (sumber: Socindex)
Socindex juga menangkap bahwa sebagian besar percakapan mengenai Aldi’s Burger berasal dari pengguna asli. Proporsi akun human lebih tinggi daripada akun cyborg, yaitu akun yang masih dikelola manusia, tetapi memiliki pola aktivitas yang menyerupai otomatisasi. Selain itu, tidak ditemukan aktivitas dari akun robot. Hal ini menunjukkan bahwa percakapan mengenai Aldi’s Burger berkembang secara relatif organik di media sosial yang melibatkan pengguna secara langsung, bukan didominasi oleh aktivitas bot.

Grafik 3. Top post by likes keyword “Aldis Burger” di X (sumber: Socindex)
Unggahan dengan jumlah likes tertinggi berasal dari dari akun willoughby tucker mencatat interaksi tertinggi dengan 28,6 ribu likes, diikuti akun HRD BACOT dengan 16,4 ribu likes dan intinyadeh dengan 13,2 ribu likes.
Pola ini menunjukkan bahwa kalimat promosi Aldi’s Burger telah berkembang menjadi semacam meme yang mudah ditiru oleh pengguna media sosial. Alih-alih hanya berfungsi sebagai pesan promosi, kalimat tersebut justru menjadi bahan candaan yang mendorong pengguna lain untuk ikut mengulanginya. Hal ini akhirnya dapat menambah viralitas topik tersebut.

Grafik 4. Volume berita harian keyword “Aldis Burger” di media (sumber: Newstensity)
Volume pemberitaan mengenai Aldi’s Burger pada periode 7-12 Maret 2026 masih menunjukkan peningkatan hingga akhir periode pemantauan dengan puncak volume berita terjadi pada pada 12 Maret 2026 dengan 24 berita. Meskipun demikian, skalanya tidak sebesar percakapan yang di media sosial. Hal ini menunjukkan bahwa fenomena Aldi’s Burger lebih berkembang sebagai perbincangan viral di media sosial dibandingkan menjadi isu besar yang banyak diliput oleh media arus utama.
Penutup
Fenomena Aldi’s Burger menunjukkan bahwa kombinasi antara karakter personal yang kuat, humor absurd, dan format pesan yang mudah diingat dapat menciptakan efek viral yang besar. Pada akhirnya, keberhasilan strategi ini menegaskan satu hal sederhana: tidak semua strategi marketing bisa direplikasi, karena terkadang faktor terpentingnya justru adalah sosok yang berada di baliknya.