image
Menu
Account
Cart

No products in the cart.

Dua Mata Pisau Kenaikan Harga Plastik

Pernah melihat orang minum kopi pakai daun pisang? Agak lain ya? Ini terlalu eco-conscious atau apa cerita di baliknya?

Gambar 1. Tangkapan Layar Instagram Akun @matchacha.space

Konten minum kopi dengan daun pisang tengah jadi tren di media sosial di awal April 2026. Ternyata tren konten ini adalah respons komikal warganet khususnya para pemilik usaha food and beverage (FnB) perihal meroketnya harga plastik sebulan terakhir. FnB memang salah satu industri yang paling banyak mengkonsumsi plastik. Di Yogyakarta, satu gerai kopi waralaba bisa menggunakan 165 gelas plastik per hari atau 60.000 gelas plastik per tahun.

Harga plastik mulai naik di pertengahan Maret dan terus berlanjut hingga April. Al Jannah Damanik, penjual produk plastik di Simalungun Sumatra Utara mengatakan kenaikan berlangsung secara bertahap sejak bulan lalu. Saat ini rata-rata kenaikan mencapai 70-100 persen. Salah satu yang paling naik adalah plastik PE (polyethylene) seperti plastik gula. Biasanya Al Jannah menjual Rp 30 ribu per kg, saat ini naik menjadi Rp 58 ribu per kg. Penurunan pembelian pun jelas dirasakan olehnya. Jika biasanya pelanggan membeli 1 kg plastik PE, sekarang mereka hanya ambil ½ kg saja.

Pelaku FnB juga merasakan dampak kenaikan harga plastik ini. Ermawanto, pemilik usaha ayam goreng Yellow Chicken di Jabodetabek mengaku kenaikan harga berdampak terhadap usahanya, meskipun dampaknya minim. Menurutnya, plastik hanya bagian kecil dari harga pokok produksi (HPP). “Sebenarnya lebih banyak dampak MBG (Makan Bergizi Gratis), bisa panjang poinnya kalau diceritain,” imbuhnya.

Untuk sekarang, Wanto masih akan wait and see perihal kenaikan harga plastik ini. Pasalnya, kalau harga langsung dinaikkan, kondisi itu akan sensitif ke konsumen. Akan tetapi jika kenaikan harga plastik semakin mencekik HPP, hal yang bisa dilakukannya adalah memberikan opsi biaya tambahan, terutama untuk penjualan online. Misalnya bila dulu penggunaan alat makan seperti sendok plastik sudah termasuk dalam total biaya, nantinya akan masuk dalam opsi penambahan. “Misalnya kalau pakai sendok tambah Rp 500, kalau tidak pakai ya tidak ada tambahan biaya,” tutupnya.

Konflik Geopolitik Kacaukan Harga Plastik

Naif rasanya jika berkata, “politik tidak ada urusannya dengan hidupku”. Karena kenyataannya banyak aspek dalam kehidupan sehari-hari manusia itu dipengaruhi oleh politik, termasuk kenaikan harga plastik.

Semua bermula dari kekacauan geopolitik di Timur Tengah. Perang antara AS-Israel dengan Iran sejak 28 Februari lalu menyebabkan kenaikan harga minyak mentah. Konflik tersebut memicu kenaikan biaya sewa kapal tanker, kenaikan biaya pengiriman, kenaikan asuransi, dan sebagainya.

Kenaikan minyak mentah juga semakin tinggi dikarenakan blokade Selat Hormuz oleh Iran sebagai efek perang. Selat Hormuz merupakan jalur penting perdagangan minyak dunia. Negara-negara penghasil minyak seperti Arab Saudi, Irak, Kuwait, Uni Emirat Arab, serta Iran sendiri mengirimkan minyak lewat selat ini ke negara-negara di Asia. Setiap hari ada kurang lebih 16,7 juta barel minyak mentah yang diangkut.

Apa hubungannya dengan minyak mentah? Adalah Nafta, cairan hidrokarbon, yang merupakan salah satu bahan baku penting di industri petrokimia, termasuk untuk produksi plastik. Nafta adalah produk turunan dari minyak mentah melalui proses penyulingan. Dus, harganya sangat sensitif terhadap harga minyak bumi.

Nafta tersebut kemudian dipecah menjadi monomer (Etilena dan Propilena). Lalu, monomer digabungkan dan berubah menjadi polimer atau biji plastik. Biji plastik inilah kemudian yang dicetak menjadi produk plastik.

Permasalahannya, saat ini Indonesia masih ketergantungan impor Nafta. Asosiasi Industri Olefin Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) mengungkap saat ini kebutuhan Nafta di Indonesia mencapai 3 juta ton per tahun. Pemenuhan kebutuhan tersebut masih sepenuhnya ditopang oleh impor.

Sementara biji plastik seperti PE (Polyethylene), PP (Polypropylene), PET (Polyethylene Terephthalate), PS (Polystyrene), dan PVC (Polyvinyl Chloride) juga masih impor hingga 50 persen. Total kebutuhannya mencapai 8 juta ton per tahun.

Menanggapi harga Nafta yang meroket ini, Inaplas berencana untuk melakukan diversifikasi bahan baku mengingat rentannya kestabilan distribusi logistik akibat konflik. Salah satu bahan baku yang menjadi alternatif yaitu LPG.

Di sisi lain, sampai saat ini belum terdengar langkah konkret Pemerintah dalam menghadapi kenaikan harga plastik, yang sudah berdampak pada banyak industri, mulai dari industri besar hingga UMKM. Kementerian Perindustrian mengungkapkan, pemerintah tengah mengupayakan pasokan Nafta alternatif dari luar Kawasan Timur Tengah guna meminimalisir ketergantungan. Senada dengan Inaplas, pemerintah juga disebut akan mengoptimalkan penggunaan LPG sebagai bahan baku alternatif. Kementerian Perindustrian pun menegaskan bahwa stok Nafta dan plastik masih aman.

Pemerintah mengklaim ingin memenuhi kebutuhan plastik dalam negeri secara domestik dengan melakukan hilirisasi industri migas dengan penguatan industri petrokimia. Pada November 2025, peresmian pabrik petrokimia New Ethylene Project milik PT Lotte Chemical Indonesia (LCI) di Cilegon, diproyeksikan mampu mengganti impor produk petrokimia hingga USD1,4 miliar per tahun atau memenuhi 70 persen dari permintaan domestik. Meski demikian, klaim tersebut belum bisa dibuktikan karena seperti kata Inaplas, mayoritas bahan baku plastik di Indonesia saat ini masih bergantung kepada impor.

Pasar Plastik di Indonesia

Riset dari Mordor Intelligence mengungkap bahwa Indonesia adalah pasar plastik yang terbesar di Asia Tenggara dengan porsi 34,26 persen. Volume pasar plastik di Indonesia pada tahun 2025 mencapai 7,37 juta ton dan diprediksi naik hingga 26,3 persen di 2030.

Grafik 1. Volume Pasar Plastik Indonesia 2025 dan 2030 (Sumber: Mordor Intelligence)

Secara tipe pangsa pasar, pasar plastik didominasi oleh plastik tradisional hinggal 74,56%. Artinya, pasar plastik Indonesia masih sangat didominasi kebutuhan plastik umum untuk kemasan, konsumsi rumah tangga, logistik, dan kebutuhan industri dasar.

Grafik 2. Tipe Pangsa Pasar Plastik Indonesia 2024 (Sumber: Mordor Intelligence)

Kenaikan pasar plastik ini didongkrak oleh beberapa hal seperti naiknya permintaan packaging dari industri Fast-Moving Consumer Goods (FMCG). Meningkatnya kelas menengah dan gaya hidup urban dinilai mendongkrak permintaan terhadap produk personal care sekali pakai dan makanan instan. Kondisi tersebut menambah konsumsi plastik per kapita meningkat hingga 4 kilogram per tahun.

Industri FMCG juga terus memproduksi produk ukuran kecil atau sachet dalam jumlah yang sangat banyak. Penggunaan plastik untuk produk sachet lebih banyak dibandingkan produk yang lebih besar. World Economic Forum mengungkap, sampah sachet berkontribusi hingga 16 persen dari seluruh sampah di Indonesia dan sampah tersebut susah didaur ulang.

Tapi konsumsi masyarakat Indonesia tak bisa lepas dari ‘ekonomi sachet’. Daya beli masyarakat Indonesia khususnya di perdesaan memang tidaklah tinggi sehingga hanya bisa membeli versi mini saja. Dus, hal itu yang membuat industri FMCG terus memproduksi produk sachet.

Eksisnya ‘ekonomi sachet’ ini terlihat dari observasi saya di warung kelontong milik orang tua di Simalungun Sumatra Utara. Empat bulan setelah orang tua saya membuka warung kelontong, di seberang warung dibukalah salah satu minimarket waralaba terbesar di Indonesia. Ada rasa cemas bahwa warung ini akan kalah saing dengan minimarket yang punya display menawan, ruangan ber-AC, serta keberadaannya mencerminkan modernitas.

Tetapi kekhawatiran itu tak sepenuhnya benar. Warung kelontong orang tua saya tetap punya pangsa pasar sendiri, yaitu orang-orang yang hanya bisa membeli produk sachet secara eceran. Sebab, minimarket waralaba tersebut tidak menjual produk sachet eceran, biasanya karena alasan efektivitas operasional. Artinya, banyaknya permintaan packaging plastik termasuk sachet juga tidak lepas dari strategi industri FMCG untuk menggapai lebih banyak kelompok masyarakat dengan kemampuan daya beli yang berbeda.

Meski produk sachet ini terkesan inklusif terhadap ekonomi kelas bawah, tapi ia juga tidak lepas dari dosa-dosa lingkungan karena sampahnya yang menggunung. Pada 2023-2024, organisasi Break Free From Plastic melakukan audit merek terhadap sampah sachet di India, Indonesia, Filipina, dan Vietnam. Audit merek tersebut mengidentifikasi 10 pencemar sachet teratas di Asia, yaitu: Unilever, Wings, Mayora Indah, Wadia Group, Balaji Wafers Private Limited, Procter & Gamble, Nestlé, Yes 2 Healthy Life, JG Summit Holdings, dan Grup Salim.

Saatnya Diet Plastik?

Dua mata pisau kerap ada dalam berbagai situasi. Termasuk situasi kenaikan harga plastik ini. Di balik keluhan banyak pihak terkait kenaikan plastik, tapi ada pihak lain yang mendorong situasi ini menjadi memontum untuk melepaskan ketergantungan pada minyak bumi dan produk-produk turunannya termasuk plastik.

Dari sisi lingkungan, dorongan ini bisa dimengerti karena masalah sampah plastik seolah tak ada habisnya. Meski pasar plastik di Indonesia terus membesar, Mordor Intelligence mencatat bahwa Indonesia masih memiliki masalah daur ulang plastik. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup, sekitar 10,8 juta ton atau hampir 20 persen dari total sampah nasional merupakan plastik. Namun, tingkat daur ulang nasional baru masih sangat minim di level 22 persen. Tingkat daur ulang tertinggi ada di Pulau Jawa (31 persen), diikuti Bali-Nusra (22,5 persen) dan Sumatera (12 persen). Sementara, daur ulang sampah di Indonesia Timur masih menghadapi tantangan besar.

Meroketnya harga plastik membuat Greenpeace Indonesia mendorong pemerintah untuk mengendalikan penggunaan plastik yang sudah berlebihan, baik melalui pelarangan penggunaan plastik sekali pakai secara penuh serta investasi pemerintah ke infrastruktur sistem guna ulang.

Menurut Greenpeace pelarangan dan pembatasan kemasan plastik sekali pakai perlu diimplementasi secara penuh. Pemerintah dinilai sudah memiliki modal Permen LHK nomor 75 tahun 2019 tentang Peta Jalan Pengurangan Sampah oleh Produsen untuk melakukan pelarangan, khususnya kemasan saset yang sangat sulit untuk didaur ulang. Greenpeace juga mendorong tanggung jawab penuh produsen atas kemasannya.

Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik juga menggaungkan hal yang sama. Kondisi harga plastik mahal ini harusnya bisa jadi titik balik pola konsumsi plastik masyarakat. Pelaku usaha kecil dan menengah bisa mulai mengurangi ketergantungan masyarakat pada plastik. Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik menilai, selama ini plastik memang ada harganya, tapi kerap disubsidi oleh pedagang dan masyarakat mendapatkannya secara gratis. Solusi ini sama dengan yang dipikirkan Ermawanto, biaya plastik nantinya akan dibebankan ke konsumen. Dus, konsumen jadi punya pilihan mau diet kantong plastik atau tidak.

Pantauan Media

Berdasarkan pantauan Newstensity, pemberitaan terkait kenaikan harga plastik mulai muncul pada akhir Maret, meskipun di lapangan kenaikan harga sudah terjadi bertahap sejak awal Maret, atau tak berapa lama sejak perang AS-Israel vs Iran Meletus.

Grafik 3. Lini Masa Pemberitaan Kenaikan Harga Plastik di Media Massa 29 Maret – 9 April 2026 (Sumber: Newstensity)

Pemberitaan didominasi sentiment negatif hingga 74 persen. Sentimen negatif tersebut membahas antara lain dampak kenaikan plastik terhadap pelaku bisnis dan UMKM.

Sedangkan sentimen positif mencapai 23 persen dari total pemberitaan. Topik positif antara lain alternatif maupun pengurangan penggunaan plastik di situasi saat ini.

Grafik 4. Sentimen Pemberitaan Kenaikan Harga Plastik di Media Massa 29 Maret – 9 April 2026 (Sumber: Newstensity)

Media didominasi oleh narasumber dari Pemerintah (Menteri Perdagangan Budi Santoso, Menteri Koordinator Pangan Zulkifli Hasan, dan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung) serta dari asosiasi pelaku usaha (Sekjen Inaplas Fajar Budiono dan Sekjen DPP Ikatan Pedagang Pasar Indonesia).

Grafik 5. KOL Pemberitaan Kenaikan Harga Plastik di Media Massa 29 Maret – 9 April 2026 (Sumber: Newstensity)

Sementara di media sosial khususnya X (Twitter), dengan menggunakan Socindex, terpantau percakapan juga baru masih pada awal April. Sama dengan di media massa, percakapan di media sosial pun sedikit terlambat meski kenaikan harga sudah lama terjadi.

Grafik 6. Lini Masa Percakapan Kenaikan Harga Plastik di X 29 Maret – 9 April 2026 (Sumber: Socindex)

Emosi yang paling banyak terdeteksi terkait kenaikan harga plastik pada percakapan di X (Twitter) adalah antisipasi (43 persen), sedih (17 persen), dan marah (15 persen). Artinya, isu ini masih lebih banyak dipersepsikan sebagai ancaman ke depan daripada krisis saat ini. Karena antisipasi jauh lebih tinggi daripada marah, narasi percakapan tampaknya masih berada pada tahap kekhawatiran terhadap konsekuensi.

Grafik 7. Emosi terkait Percakapan Kenaikan Harga Plastik di X 29 Maret – 9 April 2026 (Sumber: Socindex)

Epilog

Kenaikan harga plastik memang punya dua mata pisau. Di satu sisi, kenaikan harganya akan semakin menambah daftar panjang kenaikan harga-harga yang harus ditanggung masyarakat. Selain plastik, harga-harga lain yang juga naik adalah minyak goreng, harga kertas, dan hingga harga tiket pesawat.  Tapi di sisi lain, ini jadi momen untuk bisa mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan mengurangi dampak lingkungan yang terjadi.