image
Menu
Account
Cart

No products in the cart.

Harga Minyak Goreng Mencekik, Dapur Warga Panik

“Sekarang minyak curah sudah Rp23 ribu per kilo,” ujar salah satu pedagang bahan pokok di Pasar Bulu, Semarang yang merasakan mencekiknya kenaikan harga minyak goreng. Bukan hanya mahal, stoknya pun sulit dicari. “Barangnya susah, kadang nggak ada sama sekali,” tambahnya.

Harga minyak goreng yang meroket sedang menjadi sumber keluhan para pedagang. Kondisi ini memaksa pedagang mengambil keputusan yang tidak mudah. Ada yang menaikkan harga jual, ada pula yang mengecilkan porsi atau membulatkan harga jual.

Hal serupa juga dialami Faisal, pemilik toko Sri Rejeki di Pasar Anom, Sumenep, yang sudah berjualan minyak goreng curah cukup lama. Harga minyak curah di lapaknya sudah menyentuh Rp21.000 per kilogram, naik sekitar Rp2.500 dari harga sebelumnya. Pembeli yang biasa datang rutin, kini mulai menghilang satu per satu.

“Biasanya tidak setinggi ini, jadi pembeli juga mulai sepi,” kata Faisal.

Untuk bertahan, ia memutar otak. Minyak curah kini ia kemas ulang ke dalam botol-botol kecil berisi sekitar 1,27 kilogram dan dijual seharga Rp30.000 per botol. Bukan karena mau, tapi karena satu-satunya cara agar pembeli masih bisa menjangkau harga dan agar cepat laku.

Harga minyak yang melonjak tentu menekan masyarakat baik di tingkat rumah tangga ataupun pengusaha UMKM. Pemerintah berupaya menghadirkan minyak goreng subsidi seperti MinyaKita yang lebih terjangkau dan dikontrol pemerintah. Sayangnya, yang terjadi di lapangan justru sebaliknya.

MinyaKita kini semakin sulit ditemukan di pasar tradisional. Kalaupun tersedia, harganya kerap melampaui harga eceran tertinggi (HET) yang telah ditetapkan yakni Rp15.700. Pedagang mengeluhkan pasokan yang tidak lancar, sementara permintaan terus meningkat seiring mahalnya minyak goreng curah dan kemasan.

Lonjakan harga minyak goreng curah memang sudah sering terjadi. Namun, kali ini para pelaku usaha kecil di lapangan merasakan tekanan yang lebih besar dalam waktu singkat. Ketika harga menembus sekitar Rp23 ribu per kilogram dan pasokan tersendat, mereka harus mencari cara untuk bertahan, bukan sekadar adaptasi.

Angka yang Berbicara

Apabila dikalkulasi, harga minyak goreng sudah mengalami kenaikan hampir mencapai 100% dalam lima tahun terakhir. Pola yang relatif stabil masih terlihat di tahun 2021 dengan kisaran harga Rp11.500 per liter sebelum mengalami lonjakan tajam pada 2022. Dalam hitungan bulan, harga curah nasional menembus Rp19.000–25.000 per liter. Kenaikan ini menjadi titik balik penting dan dipicu oleh beberapa faktor, antara lain konflik global antara Rusia – Ukraina yang mendorong harga CPO melonjak tajam.

Memasuki tahun 2023, harga sempat mereda ke kisaran Rp14.700 dan perlahan naik kembali ke Rp15.910 pada awal tahun 2024 hingga menyentuh Rp18.800 – Rp20.000 di akhir 2024 dan awal 2025. Setelah itu, harga tidak kembali ke level sebelum krisis bahkan terus melonjak mendekati puncak harga tertinggi baru di tahun 2026.

Grafik 1. Kenaikan harga minyak goreng periode 2021 – 2026 (Sumber: Indonesia.go.id, databoks.katadata.co.id, PIHPS)

Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Bank Indonesia, per awal April 2026, harga minyak goreng curah secara nasional sudah menembus Rp20.800 per-kilogram dari Rp19.000, naik 5,32% hanya dalam sehari.

Gambar 1. Informasi Harga Pangan Antar Daerah (Sumber: PIHPS Bank Indonesia)

Salah satu penyebab kenaikan harga minyak goreng adalah meningkatnya biaya produksi dan distribusi bahan baku yakni Crude Palm Oil (CPO)atau minyak sawit mentah. Kebijakan pemerintah untuk meningkatkan proporsi campuran biodiesel turut menekan pasokan CPO.

Pada 2024, total produksi CPO berada di kisaran kurang lebih 50 – 52,7 juta ton (CPO dan PKO atau minyak inti sawit).  Dari jumlah produksi tersebut, pengalokasian untuk biodiesel diperkirakan mencapai sekitar 11,4 juta ton – 12 juta ton, meningkat signifikan seiring implementasi mandatori B30 hingga B35. Angka ini melampaui penggunaan CPO untuk pangan yang berada di angka 10,2 juta ton.

Grafik 2. Konsumsi CPO untuk kebutuhan pangan dan biodiesel (Sumber: gapki.id, data.goodstads.id)

Program biodiesel Indonesia sudah berjalan sejak lama dan pemberlakuannya bertahap, dimulai dari B20, lalu naik ke B30, B35, B40. Selanjutnya, Indonesia akan menerapkan B50 mulai 1 Juli 2026. Menko Perekonomian Airlangga Hartarto pada 31 Maret 2026 mengumumkan kebijakan tersebut sebagai respons atas melonjaknya harga minyak dunia akibat konflik Timur Tengah. Dengan B50, pemerintah berharap bisa menghemat impor solar dan menekan subsidi energi hingga Rp48 triliun dalam enam bulan.

Penerapan kebijakan ini berimplikasi pada kenaikan harga CPO. Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Surakarta, Prof. Anton Agus Setyawan, menilai program ini akan meningkatkan permintaan domestik terhadap minyak sawit yang diperkirakan mencapai sekitar 16 juta ton per tahun. Dalam kondisi produksi yang cenderung stagnan, lonjakan permintaan ini berpotensi mendorong harga CPO naik.

Ketika harga CPO naik, harga minyak goreng ikut terkerek naik. Harga minyak goreng diperkirakan bisa terdorong naik 5–10% dalam jangka pendek jika permintaan biodiesel meningkat tanpa diimbangi kenaikan produksi. Harga minyak goreng semakin meningkat seiring dengan kenaikan harga plastik kemasan. Perang AS-Iran diketahui turut menekan suplai bahan baku plastik, sehingga harganya melambung tinggi lebih dari 50%.

Respons Pemerintah

Di tengah rencana implementasi program B50 pada 1 Juli 2026 yang diperkirakan akan menyerap hingga sekitar 16 juta ton CPO, pemerintah menegaskan bahwa stabilitas harga dan ketersediaan minyak goreng tetap menjadi prioritas. Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Eddy Martono mengungkapkan bahwa pasokan minyak sawit Indonesia dinilai masih mencukupi untuk memenuhi kebutuhan energi maupun pangan.

“Kalau terjadi kelangkaan harusnya tidak. Karena ekspor kita 32 juta ton, sementara kebutuhan pangan hanya sekitar 9 juta ton,” ungkap Eddy.

Berbagai kebijakan disiapkan untuk menjaga keseimbangan, salah satu langkah utama adalah memperkuat mekanisme Domestic Market Obligation (DMO) yang mewajibkan produsen minyak goreng untuk menyalurkan sebagian produksinya ke pasar domestik. Perum Bulog mengusulkan penambahan kuota DMO menjadi 65% dari sebelumnya sebesar 35%. Keputusan ini diambil sebagai upaya menjaga ketersediaan minyak goreng rakyat, khususnya merek MinyaKita, yang saat ini mengalami keterbatasan stok di pasar.

Eddy menambahkan, peningkatan kebutuhan domestik masih dapat diantisipasi dengan menyesuaikan porsi ekspor. Langkah tersebut dinilai cukup untuk menjaga pasokan minyak sawit di dalam negeri.

GAPKI juga menyarankan agar produksi naik ke 55 – 60 juta ton agar semua kebutuhan terpenuhi yakni melalui program replanting dan intensifikasi lahan. Hal ini melihat produksi CPO Indonesia yang justru cenderung stagnan bahkan mengalami penurunan selama beberapa tahun terakhir. Sebagai contoh, produksi CPO bulan Desember 2024 mencapai 3.876 ribu ton; lebih rendah 10,55% dibandingkan dengan produksi bulan November 2024. Penurunan ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain seperti penurunan produktivitas lahan, tanaman sawit yang sudah tua, keterlambatan program replanting, hingga tekanan cuaca dan El Niño turut menahan pertumbuhan produksi.

Analisis Media

Isu kenaikan harga minyak goreng mendapat sorotan luas di media massa. Berdasarkan pantauan Newstensity, pemberitaan terkait isu ini menunjukkan dinamika yang fluktuatif selama periode 7–14 April 2026.

Grafik 3. Lini Masa Pemberitaan Kenaikan Harga Minyak Goreng di Media Massa 7 – 14 April 2026 (Sumber: Newstensity)

Selama periode ini, volume pemberitaan didominasi oleh sentimen positif yang cukup tinggi sebesar 75%. Pemberitaan positif terutama berkaitan dengan upaya-upaya pemerintah dalam menjaga stabilitas pasokan dan harga.

Grafik 4. Sentimen Pemberitaan Kenaikan Harga Minyak Goreng 7 – 14 April 2026 (Sumber: Newstensity)

Sementara itu, sentimen negatif cenderung bergerak lebih stabil dengan jumlah 24% yang didorong oleh keluhan pedagang bahan pokok, penjual UMKM, dan konsumen terkait harga minyak goreng yang terus naik serta distribusi yang tidak merata. Sedangkan sentimen netral relatif minim dengan 1% di sepanjang periode dan didorong oleh respons kebijakan serta pemberitaan informatif tentang produksi minyak goreng curah.

Gambar 2. Entitas dalam Pemberitaan Kenaikan Harga Minyak Goreng 7 – 14 April 2026 (Sumber: Newstensity)

Terkait pemberitaan harga minyak goreng di media massa, Presiden Prabowo Subianto menjadi entitas yang paling banyak disebut dalam pemberitaan terkait pengolahan CPO atau minyak sawit mentah untuk program biodiesel 50 (B50). Sedangkan Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menjadi salah satu narasumber dominan yang menyinggung langkah strategis pemerintah dalam menjaga pasokan dan harga kebutuhan pokok termasuk minyak goreng.  

Sementara itu, Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menjadi narasumber dominan kedua yang membahas rencana operasi pasar MinyaKita yang dilaksanakan oleh Bulog untuk mengatasi kelangkaan minyak subsidi.

“Kami memastikan bahwa Minyakita tersedia dan dijual dengan harga yang tetap terjangkau bagi masyarakat. Saat ini harga terpantau sesuai HET di harga Rp 15.700 per liter,” ucapnya saat monitoring pasokan dan harga MinyaKita di Pasar Minggu dan Pasar Grogol, Jakarta

 Tanggapan Warganet

Grafik 5. Statistik Cuitan “harga minyak goreng” di Media Sosial X 7 – 14 April 2026 (Sumber: Socindex)

Dari tangkapan Socindex dengan keyword “harga minyak goreng” di media sosial X (Twitter) selama 7 – 14 April 2026, percakapan mengenai kenaikan harga minyak goreng berasal dari sebanyak 52 talks dan menghasilkan 26.637 applause dengan total 36.912 engagement. Topik yang menjangkau sekitar 5,5 juta audiens ini menunjukkan bahwa semakin meroketnya harga minyak goreng berhasil menjadi bahan perbincangan di media sosial dan memicu interaksi yang cukup luas.

Grafik 6. Lini Masa Percakapan Kenaikan Harga Minyak Goreng di Media Sosial X 7 – 14 April 2026 (Sumber: Socindex)

Sementara itu, percakapan di media sosial X terkait minyak goreng curah terpantau masih landai di awal April dan mulai menunjukkan kenaikan yang signifikan di tanggal 11 April 2026.  Hal ini ditandai dengan banyaknya masyarakat yang mulai mendapati kenaikan harga minyak goreng baik curah maupun minyak goreng kemasan di warung, minimarket, maupun supermarket, seperti terlihat pada cuitan berikut.

Gambar 3. Cuitan warganet menanggapi kenaikan harga minyak goreng di pasaran. Sumber: akun X @adi_sujarw84026, @muandzzz, @radarmasnetwork, @sibambaang, @beautiaf

Menurut analisa Socindex, emosi yang paling banyak terdeteksi di media sosial X terkait naiknya harga minyak goreng adalah antisipasi (43%), sedih (29%), dan marah (14%). Ini menandakan reaksi warganet masih dipenuhi oleh rasa khawatir, marah, dan kekhawatiran terhadap kelanjutan harga minyak goreng yang masih tak menentu.

Grafik 7. Emotion status dan bot score cuitan warganet di X terkait harga minyak goreng (Sumber: Socindex)

Tak hanya itu, Socindex juga menangkap bahwa sebagian besar percakapan mengenai harga minyak goreng berasal dari pengguna asli. Proporsi akun human lebih tinggi daripada akun cyborg, yaitu akun yang masih dikelola manusia, tetapi memiliki pola aktivitas yang menyerupai otomatisasi. Selain itu, tidak ditemukan aktivitas dari akun robot.

Hal ini menunjukkan bahwa percakapan mengenai kenaikan harga minyak goreng berkembang secara organik di media sosial yang melibatkan pengguna secara langsung.

Ironi yang Sulit Disembunyikan

Situasi geopolitik global turut memicu kenaikan harga CPO global. Tekanan semakin besar dengan kebijakan B50 yang akan diterapkan Indonesia, sebagai bagian dari ketahanan energi. Masyarakat Indonesia lagi-lagi terkena imbasnya karena harus membayar minyak goreng dengan harga yang semakin mahal. Ini menjadi sebuah ironi karena Indonesia adalah produsen minyak sawit terbesar di dunia, dengan lebih dari 85 persen pasokan minyak sawit global berasal dari Indonesia dan Malaysia.