image
Menu
Account
Cart

No products in the cart.

Dari Telco ke Techco, Perusahaan Telekomunikasi Mana yang Paling Terdengar Transformasinya?

Industri telekomunikasi sudah semakin matang (mature). Saat industri sudah mencapai fase ini, kinerja melambat, pasar menjadi jenuh, dan persaingan bergeser dari inovasi produk menjadi efisiensi dan konsolidasi (merger).

Kondisi ini sudah terlihat jelas pada industri telekomunikasi di Indonesia selama beberapa tahun terakhir. Tiga pemain besar yakni TelkomGroup, Indosat Ooredoo Hutchison (IOH), dan XLSmart menunjukkan perlambatan kinerja. Dua di antaranya yakni IOH dan XLSmart bahkan sudah melakukan konsolidasi. Indosat merger dengan Hutchison (Tri Indonesia) di 2022 menjadi IOH, dan XL Axiata melebur dengan Smartfren menjadi XLSmart pada 2025.

Dari laporan keuangan ketiganya sepanjang 2020–2025 terlihat pertumbuhan yang relatif lambat khususnya pada TelkomGroup, yang bahkan menunjukkan penurunan pendapatan pada 2025. Dari grafik di bawah juga terlihat, kinerja pada IOH dan XLSmart hanya terlihat merangkak naik saat terjadi konsolidasi.

Grafik 1. Kinerja Keuangan Perusahaan Telekomunikasi 2020–2025 (Sumber: Laporan Keuangan Konsolidasi TelkomGroup, Indosat-IOH, dan XL Axiata-XLSmart 2020–2025)

Tidak hanya dari sisi pendapatan (revenue) saja yang stagnan, jumlah pelanggannya juga menunjukkan tren yang seirama. Berdasarkan data pada tabel di bawah, jumlah pelanggan baik secara year on year (yoy) maupun quarter to quarter (q-t-q) menunjukkan stagnasi bahkan penurunan. Pelanggan TelkomGroup menurun baik yoy maupun q-t-q. IOH menurun secara yoy, tetapi stagnan secara q-t-q. XLSmart menunjukan kenaikan pelanggan secara q-t-q karena adanya konsolidasi pada 2025, sehingga belum bisa terlihat kinerja nyatanya setelah merger.

Tabel 1. Jumlah Pelanggan Seluler Perusahaan Telekomunikasi 2023–2026

Melihat kemandekan tersebut, apa yang dilakukan oleh para pemain industri telekomunikasi untuk mengatasinya?

Lebih Dari Sekadar Ekspansi

Secara global, perlambatan pertumbuhan industri telekomunikasi sudah berlangsung sejak 2000-an. Digitalisasi telah mengubah lanskap dari industri ini. Berdasaran Laporan McKinsey pada September 2016, industri media massa dan telekomunikasi menduduki peringkat dua besar sebagai industri yang harus mengalami disrupsi hanya dalam 12 bulan akibat digitalisasi. Laporan ini juga mendorong industri telekomunikasi untuk melakukan transformasi digital agar bisa bertahan.

Pada Mei 2021, muncul istilah techco. Kantor Konsultan IT asal Irlandia Accenture dan organisasi global ekosistem konektivitas TM Forum mengeluarkan sebuah laporan berjudul “The Tech-driven Telco” yang menjadi konsepsi awal transformasi dari perusahaan telekomunikasi (telco) menjadi perusahaan teknologi (techco). Sejak saat itu TM Forum terus mendorong konsep ini lewat berbagai whitepaper atau laporan terperinci.

Perubahan dari telco menjadi techco ini bukan sekadar ekspansi, melainkan sebuah transformasi fundamental dari industri pipelines atau pipa data menjadi industri yang memiliki ekosistem digital sendiri berbasiskan pengalaman pelanggan. Dari sebelumnya hanya berbisnis produk/jasa konektivitas (connectivity) diperlebar dengan menyentuh produk-produk digital dan non konektivitas (non connectivity).

Produk konektivitas adalah produk-produk tradisional seperti konektivitas seluler (4G/5G), jaringan kabel optik, Menara, satelit, dsb. Sedangkan produk digital dan non konektivitas termasuk cloud computing, data center, system integration & managed services, solusi internet of thing (IoT) & smart city, serta ekosistem digital (AI, digital finance, hiburan digital & konten) dan sebagainya.

Tabel 2. Perbandingan Telco dan Techco

Leader perusahaan telco global Asit Mishra menilai, transformasi telco to techco penting karena memungkinkan perusahaan telekomunikasi tetap relevan di tengah perubahan lanskap digital, memperluas pasar melalui layanan inovatif, serta menciptakan sumber pendapatan baru di luar konektivitas tradisional. Dengan memanfaatkan infrastruktur, basis pelanggan, dan kapabilitas teknologi yang sudah dimiliki, perusahaan dapat masuk ke layanan digital seperti cloud, AI, cybersecurity, IoT, data center, dan enterprise solutions. Transformasi ini juga memperkuat pengalaman pelanggan melalui layanan yang lebih personal dan terintegrasi, sekaligus memberi keunggulan kompetitif untuk bersaing di pasar teknologi yang lebih luas.

Di Indonesia, transformasi telco ke techco ini sudah dimulai sejak 2020–2022 dan masih terus berlangsung hingga sekarang. Level transformasi dari tiap perusahaan relatif berbeda.

· TelkomGroup

TelkomGroup memulai transformasi dengan restrukturisasi internal lewat inisiatif Five Bold Moves untuk membangun keunggulan kompetitif di tiga pilar: digital connectivitydigital platform, dan digital services.

Gambar 1. Implementasi Five Bold Moves TelkomGroup (Sumber: Kumparan.com)

Pada 2024, atau setahun setelah Five Bold Moves dikeluarkan, pertumbuhan kinerja TelkomGroup didorong oleh peningkatan bisnis DataInternet IT Services yang tumbuh 3,5% YoY menjadi Rp90,5 triliun di sepanjang tahun 2024. Bisnis ini terus menjadi salah satu pendorong utama bagi pertumbuhan kinerja Telkom sebagaimana ditunjukkan oleh peningkatan layanan teknologi informasi (TI) dan konten digital, serta peningkatan lalu lintas data (data payload).

Kemudian, pada Maret 2026, TelkomGroup kembali meluncurkan strategi TLKM 30 yang merupakan kerangka transformasi guna mendukung perkembangan bisnis perusahaan hingga 2030. Adapun beberapa strategi yang ditetapkan adalah peningkatan layanan dan jaringan broadband serta teknologi AI, perampingan dan penyederhanaan portofolio anak usaha yang tidak termasuk bisnis inti, penguatan fungsi perusahaan induk dalam mengelola ekosistem bisnis digital dan infrastruktur, serta optimalisasi dan monetisasi aset digital bernilai tinggi, seperti ekspansi data center dan cloud computing.

Tabel 3. Inisiatif Non Konektivitas TelkomGroup

Meski inisiatif yang dilakukan sudah relatif lebih beragam dan lengkap, transformasi ini belum sepenuhnya bisa mendongkrak kinerja TelkomGroup. Bahkan pada 2025, TelkomGroup mengalami penurunan revenue tipis dari Rp 149,97 triliun di 2024 menjadi Rp 146,47 triliun di 2025. Meski demikian secara jumlah pendapatan, TelkomGroup jauh lebih tinggi dibandingan perusahaan telekomunikasi lainnya.

· IOH

Setelah merger dengan Hutchison pada 2022, Indosat mulai menapakkan ikhtiar menuju transformasi digital. IOH menjadi perusahaan telco yang paling artikulatif ke publik terkait konsep transformasi yang diinginkan yakni menjadi AI-Native Techco atau perusahaan teknologi yang merancang seluruh fondasi operasional, layanan, dan produknya menggunakan kecerdasan buatan (AI) sejak hari pertama.

IOH memulainya dari transformasi dengan menjalin kerjasama dengan perusahaan maupun konsultan IT global sejak 2021 hingga saat ini. Kemitraan strategis tersebut terjalin dengan Google CloudAccentureMicrosoft, dan NVIDIA serta Nokia, mulai dari pemanfaatan AI untuk modernisasi layanan pelanggan, analitik geospasial, predictive modeling, dan transformasi back-office, hingga pengembangan sovereign AI cloud, adopsi Copilot lintas fungsi organisasi, serta pembangunan infrastruktur sovereign AI factory.

Pada November 2025, tepat pada peringatan ulang tahun perusahaan ke-58, IOH mengumumkan secara resmi transformasinya menjadi AI-Native Techco. Ada tiga pilar AI yang digunakan oleh IOH yakni menjadi AI-Native Telco dengan mengoptimalkan jaringan, kapasitas, IT, dan pengalaman pelanggan berbasis AI; menjadi AI TechCo lewat pembangunan sovereign AI factory bersama NVIDIA, Accenture, dan Google untuk melayani sektor enterprise; serta menjadi AI Nation Shaper dengan mendorong daya saing AI nasional, termasuk melalui Indonesia AI Center of Excellence bersama Komdigi, Cisco, dan NVIDIA serta Sahabat-AI kerjasama dengan GoTo.

Tabel 4. Inisiatif Non Konektivitas IOH

Dengan transformasi AI Native ini, IOH memperkirakan bisnis AI cloud-nya akan menghasilkan pendapatan kontrak sekitar US$170 juta dalam tiga tahun ke depan, seiring meningkatnya permintaan terhadap infrastruktur AI di Asia Tenggara.

· XLSmart

Dibanding dua kompetitornya, XLSmart menjadi yang paling bungsu dalam melakukan transformasi bisnisnya, dimulai dengan konsolidasi XL Axiata dan Smartfren pada April 2025 guna mengatasi pasar yang kian jenuh.

XLSmart mengarahkan transformasinya untuk menyediaan solusi digital B2B lewat lini bisnisnya XLSmart for Business. Pada Juni 2026, XLSmart for Business meluncurkan ESTA Ecosystem dalam ajang BRAVO 500 Summit 2026. Ekosistem ini mengintegrasikan 5G, AI, platform data, dan otomasi untuk meningkatkan produktivitas serta daya saing korporasi.

Adapun beberapa pilar transformasi XLSmart mencakup data, AI, jaringan (5G berkelanjutan), aplikasi, perangkat (device), keamanan siber, dan automasi segmen B2B.

Tabel 5. Inisiatif Non Konektivitas XLSmart

Transformasi telco menuju techco di Indonesia tidak hanya terlihat dari perubahan struktur pendapatan, tetapi juga dari portofolio bisnis yang mulai bergerak ke data center, cloud, AI, cybersecurity, ICT managed services, digital platform, dan enterprise automation.

Telkom menjadi pemain dengan portofolio techco paling lengkap melalui NeutraDC, Telkomsigma, Digiserve, INDICO, PaDi UMKM, dan MDI Ventures. Indosat mengambil posisi kuat di AI dan enterprise ICT melalui Lintasarta, Sahabat-AI, AI Factory, dan data center. Sementara XLSmart masih berada pada tahap awal, dengan fokus pada solusi enterprise seperti AI, cybersecurity, automation, IoT, dan analytics.

Dengan demikian, transisi telco ke techco sudah berjalan, tetapi tingkat kematangannya berbeda: Telkom paling terdiversifikasi, Indosat paling agresif pada AI, dan XLSmart masih membangun pijakan awal di pasar enterprise technology.

Tabel 6. Perbandingan inisiatif techco dari Telkom, IOH, dan XLSmart

Potret Transformasi di Media Massa

Selain memperkuat lini bisnis, menyampaikan pesan pada masyarakat bahwa transformasi telah dilakukan oleh perusahaan telko, adalah hal yang penting untuk dilakuan. Branding transformasi ini penting karena bisnis telko tradisional sudah semakin matang sehingga lebih sulit untuk meningkatkan kinerja tanpa melakukan konsolidasi atau merger. Dus, perusahaan perlu membangun persepsi publik bahwa sumber pertumbuhan di masa depan berasal dari bisnis non-konektivitas seperti AI, cloud, cyber security, data center, IoT, enterprise solution, dan sebagainya.

Terkhusus untuk investor maupun analis keuangan/bisnis, media tradisional atau media massa, masih cukup penting perannya. Media massa menjadi trust builder baik buat perusahaan maupun investor karena dinilai lebih kredibel dan mempunyai standar jurnalistik. Sementara media sosial, digunakan untuk menilai risiko reputasi.

Riset ini bertujuan untuk melihat magnitude pesan transformasi yang digaungkan perusahaan-perusahaan telekomunikasi di media massa. Dengan menggunakan alat big data NewstensityJangkara Data Lab akan melihat seberapa besar pesan transformasi ini disampaikan perusahaan di media massa pada periode 11 Juni 2025–11 Juni 2026 (setahun) dan perusahaan mana yang pesannya paling unggul secara kuantitatif.

Adapun kata-kata kunci yang digunakan untuk melakukan monitoring adalah sebagai berikut:

Tabel 7. Kata Kunci yang Digunakan untuk Media Monitoring Isu Transformasi Telco ke Techco

Selama setahun terakhir, bila dilihat dari sisi jumlah berita, TelkomGroup memiliki lebih banyak berita digital/non-konektivitas di media massa yakni 20.012 berita. Akan tetapi bila dilihat secara persentase ke masing-masing total publikasi, IOH lebih unggul dengan 28 persen. Artinya, secara porsi pemberitaan, IOH lebih menekankan perihal bisnis non-konektivitas dalam strategi komunikasi publiknya di media massa.

Tabel 8. Share of Voice Pemberitaan Perusahaan Telekomunikasi 11 Juni 2025–11 Juni 2026 (Sumber: Newstensity, diolah)

Jika ditilik berdasarkan klasterisasi topik berdasarkan pesan transformasi dan tipe bisnis, bisa dilihat bahwa IOH menjadi perusahaan telekomunikasi yang paling menguasai klaster Techco Transformation (kata kunci: techco, AI-Techco, beyond connecitivity) dengan 2.540 berita. Disusul oleh Telkom (876 berita), dan paling sedikit adalah XLSmart (65 berita). IOH menegaskan transformasi ke AI Techco pada November 2025, tepat pada saat ulang tahun perusahaan yang ke-58.

Grafik 2. Klasterisasi Pemberitaan Non Konektivitas Perusahaan Telekomunikasi 11 Juni 2025–11 Juni 2026 (Sumber: Newstensity, diolah)

Untuk klaster pemberitaan AI, Data & Intelligent Network, IOH juga masih memimpin dengan 10.366 berita, unggul tipis dari Telkom (10.108 berita). XLSmart berada jauh di belakang dengan 1.731 berita. IOH telah meluncurkan sejumlah inisiatif AI seperti Sahabat-AI, AI-RAN Research Center, dan AI-produk yang dilekatkan bersama produk konektivitas seperti IM3 Satspam dan Tri AI untuk pencegahan scam digital. IOH juga melaporkan, pada kuartal I 2026, perusahaan mencatat pertumbuhan dua digit di sejumlah indikator utama, mencerminkan keberhasilan strategi bisnis berbasis pelanggan dan teknologi AI.

Sementara klaster pemberitaan Cloud, Data Center, dan Digital Infrastructure didominasi oleh Telkom dengan 9.021 berita. Telkom melaporkan bahwa pada 2025, pertumbuhan kinerja perusahaan didorong oleh sektor infrastruktur digital dan data center.

Pada Maret 2026, Telkom mengeluarkan TLKM 30. Program ini menjadi bagian dari upaya Telkom dalam melakukan transformasi bisnis dari perusahaan telekomunikasi tradisional menjadi digital telco. Beberapa pilar dari strategi ini yaitu penguatan infrastruktur digital (perluasan jaringan fiber optik, peningkatan kapasitas backbone internet, serta pengembangan konektivitas data yang lebih andal), pengembangan platform digital (layanan cloud, data center, dan solusi digital untuk sektor bisnis), penguatan ekosistem inovasi teknologi (AI, IoT, Big Data Analytics), dan lain sebagainya.

Terakhir, pada klaster Enterprise Digital Solution & Cybersecurity, Telkom juga masih unggul dengan 6.764 berita. Hal ini juga memang masih sejalan dengan strategi Telkom 30 di mana salah satu pilarnya juga adalah pengembangan layanan digital untuk segmen bisnis (cloud computing, cyber security, solusi data analytics, dan layanan digital enterprise).

Di sisi lain, XLSmart juga cukup fokus pada klaster ini. Meski bila dilihat dari komparasi pemberitaan antar perusahaan, jumlah pemberitaannya cukup minim, tapi pemberitaan klaster ini paling gendut (1.934 berita) bila dibandingkan antar klaster di internal XLSmart sendiri. Chief Enterprise Business XLSmart, Feby Sallyanto, menyatakan bahwa perusahaan kini tidak hanya fokus pada konektivitas. XLSmart mulai memperluas perannya ke sektor integrasi data, keamanan siber, hingga integrasi aplikasi. Langkah ini diambil karena kebutuhan perusahaan saat ini telah berkembang melampaui sekadar akses internet.

Mari kita lihat bagaimana klasterisasi pemberitaan non konektivitas di dalam masing-masing perusahaan. Dari situ bisa terlihat, klaster mana yang menjadi fokus masing-masing perusahaan. Dari tiga grafik di bawah bisa dilihat perbedaan positioning transformasi antarperusahaan. IOH paling eksplisit mengaitkan transformasi techco dengan AI dan intelligent network. TelkomGroup memiliki narasi yang lebih luas dan terdiversifikasi, terutama pada AI serta cloud/data center sebagai fondasi infrastruktur digital. Sementara itu, XLSmart lebih banyak diberitakan dalam konteks enterprise digital solutions dan cybersecurity, sehingga narasi techco-nya masih lebih operasional daripada strategis.

Grafik 5. Klasterisasi Pemberitaan Non Konektivitas XLSmart 11 Juni 2025–11 Juni 2026 (Sumber: Newstensity, diolah)

Selanjutnya, mari kita lihat dari ontologi pemberitaan atau hubungan antar sesama entitas pada data berita yang dianalisis. Pada periode 11 Juni 2025–11 Juni 2026, peta ontologi pemberitaan non konektivitas perusahaan telekomunikasi menunjukkan dua pusat narasi utama. TelkomGroup membangun eksposur melalui kekuatan grup, infrastruktur, dan posisi strategis regional, sementara IOH lebih menonjol melalui narasi AI, kemitraan teknologi global, dan transformasi digital.

Keterhubungan dengan IOH dengan Nvidia, Nokia, Komdigi, dan figur Vikram Sinha memperkuat positioning IOH sebagai telco yang agresif masuk ke agenda techco. Sebaliknya, TelkomGroup tetap terlihat dominan secara institusional, tetapi narasi techco-nya lebih tersebar dalam ekosistem grup dan infrastruktur digital. Sedangkan, XLSmart masih belum masuk dalam narasi utama di periode ini karena ekspansi bisnis non-konektivitasnya belum seluas TelkomGroup dan IOH.

Grafik 6. Ontologi Pemberitaan Non Konektivitas Perusahaan Telekomunikasi 11 Juni 2025–11 Juni 2026 (Sumber: Newstensity)

Epilog

Industri telekomunikasi di Indonesia sedang memasuki babak baru. Transisi telco ke techco di Indonesia sudah berjalan, tetapi tingkat kematangannya berbeda: TelkomGroup paling terdiversifikasi, Indosat paling agresif pada AI, dan XLSmart masih membangun pijakan awal di pasar enterprise technology.

Dalam pemberitaannya di media massa, TelkomGroup memiliki narasi yang lebih luas dan terdiversifikasi, terutama pada AI serta cloud/data center sebagai fondasi infrastruktur digital. IOH paling eksplisit mengaitkan transformasi techco dengan AI. Sementara itu, XLSmart diberitakan dalam konteks enterprise digital solutions dan cybersecurity, sehingga narasi techco-nya masih lebih operasional daripada strategis.