image
Menu
Account
Cart

No products in the cart.

Ambisi Motor Listrik Nasional Ala Prabowo

Peralihan ke kendaraan listrik menjadi salah satu program yang dikejar pemerintahan Prabowo pada semester kedua tahun ini. Bukan semata karena semangat ramah lingkungan, tapi lebih ke arah untuk menekan subsidi BBM. Motor sebagai kendaraan terfavorit warga Indonesia dengan jumlah mencapai 145,2 juta unit menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), menjadi incaran dalam program elektrifikasi mobilitas rakyat. Adapun ekosistem mobil listrik ditargetkan melakukan produksi pada 2028.

Presiden Prabowo Subianto bahkan menghadiri seremoni produksi ke-20 ribu produsen motor listrik PT Ilectra Motor Group yang memproduksi motor listrik bermerk ALVA di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat pada 13 Agustus 2026. Pada kesempatan itu, Presiden Prabowo turut meresmikan ekosistem Motor Listrik Nasional (Molinas) di fasilitas produksi milik ALVA. Produsen yang disokong konglomerasi tambang Indika Energy milik keluarga Sudwikatmono.

Jeda sehari setelah peresmian Molinas, Presiden Prabowo kembali mengutarakan niatnya untuk mempercepat proses elektrifikasi. “Tadi saya sebut kita akan percepat proses elektrifikasi mobilitas rakyat. Subsidi BBM harus kita kurangi secara signifikan. Untuk itu, pemerintah yang saya pimpin kemarin telah meluncurkan ekosistem motor listrik nasional,” kata Prabowo dalam Penyampaian RAPBN 2027 dan Nota Keuangan di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2026) seperti dikutip dari detik.com.

Dari pidato Prabowo, ada tiga tujuan elektrifikasi: menurunkan biaya kendaraan untuk rakyat, mengurangi konsumsi bahan bakar impor, dan membesarkan industri motor listrik nasional beserta rantai pasok baterai, komponen, perangkat lunak, serta layanan purnajualnya. Presiden tidak menyinggung energi hijau ataupun target Net Zero Emission (NZE) terkait pengembangan kendaraan listrik.

Apa itu Molinas?

Mengutip penjelasan dari akun Instagram Badan Komunikasi RI @bakom.ri, Molinas adalah program yang digagas oleh Danantara dan PT Len Industri. Nama terakhir akan menjadi lead integrator yang mengorkestrasi kolaborasi seluruh pemangku kepentingan. Program ini dirancang bukan sekadar peluncuran satu merek kendaraan, melainkan ekosistem menyeluruh dari industri, baterai, pembiayaan, hingga penyerapan pasar.

Bakom juga mengklaim kapasitas produksi ekosistem Molinas mencapai 100 ribu unit per tahun dengan target produksi awal untuk 2026 mencapai 75 ribu unit, kandungan TKDN antara 40–60%, menciptakan 215 ribu lapangan kerja, dan potensi ekonomi hingga Rp 150 triliun. Pada kesempatan yang sama Presiden Prabowo juga menjanjikan insentif bagi perusahaan yang mampu memproduksi 1 juta unit motor listrik dalam negeri. Belum jelas seperti apa bentuk insentif yang dijanjikan.

Gambar 1. Peta jalan ekosistem Molinas. Diolah dari Bakom RI

Dalam peresmian Molinas, ditampilkan produk lokal dari Gesits dan Alva, serta motor listrik Cakra NX1 yang dianggap rebadge dari ALVA N3. Kemungkinan besar, manufaktur Molinas akan digawangi oleh kedua produsen tersebut.

Peta jalan Molinas menjadi sentimen positif untuk perkembangan motor listrik nasional. Kehadiran produk nasional juga berpotensi menjadi pijakan awal bagi pengembangan industri dan ekosistem motor listrik di dalam negeri, serta bukti dukungan pemerintah pada industri ini. Pengembangan motor listrik nasional belum berhenti pada peluncuran produk. Tahapan berikutnya akan menentukan merek, lokasi produksi, skema kerja sama, hingga tingkat komponen dalam negeri (TKDN) yang digunakan.

Saat ini konsep pengembangan tersebut masih membutuhkan penjabaran lebih teknis. PT Len Industri disebut menjadi pihak yang akan mengembangkan konsep tersebut agar dapat diterjemahkan menjadi produk dan kegiatan produksi yang lebih konkret. Ada beberapa hal yang perlu dijelaskan pemerintah terkait teknis pelaksanaan. Seperti siapa saja industri yang ditunjuk terlibat di dalamnya dan besaran subsidi dari pemerintah mengingat target produksi 1 juta motor listrik terdengar sangat ambisius.

Membedah Data dan Klaim Molinas

Industri motor listrik di Indonesia disebut sudah memasuki fase pertumbuhan dengan anggota lebih dari 57 produsen motor listrik, menurut catatan Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (Aismoli). Beberapa produsen juga sudah mencapai produksi massal dan mencatatkan penjualan ribuan unit per tahun secara kumulatif.

Menurut para produsen, kendala bukan pada kapasitas produksi atau ketersediaan bahan baku, akan tetapi pada utilisasi pabrik. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, terdapat 69 perusahaan industri Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB) roda dua dan roda tiga dengan total kapasitas produksi mencapai 2,51 juta unit per tahun dan nilai investasi sekitar Rp1,2 triliun.

Di sisi lain, untuk mengukur kemampuan pasar, sulit menemukan realisasi penjualan motor listrik pabrikan karena beberapa produsen tidak membukanya ke publik. Aismoli tidak membuka angka penjualan tahunan. Sebaliknya, Asosiasi Sepeda Motor Indonesia (AISI) mencatat penjualan motor listrik pada 2025 sebanyak 17 ribu unit dari anggota mereka yakni Honda, Yamaha, Suzuki, Kawasaki, dan TVS.

Untuk mengetahui penguasa market share motor listrik nasional bisa bersandar pada data Surat Registrasi Uji Tipe (SRUT) KBLBB yang dikeluarkan Kementerian Perhubungan, disebutkan total penjualan sepeda motor listrik di Indonesia sepanjang 2025 sebanyak 55.059 unit.

Polytron menguasai sekitar 60 persen pangsa pasar, dengan penjualan sekitar 33.000 unit motor listrik. Merek lainnya seperti ALVA mengekor dengan produksi kumulatif 20 ribu unit pada Agustus 2026. Sementara merek seperti Maka, United, Volta, GESITS, SELIS, dan Viar memang memiliki kapasitas manufaktur akan tetapi transparansi volume penjualannya sulit ditentukan.

Grafik 1. Perbandingan penjualan motor konvensional dan motor listrik

Bandingkan dengan penjualan sepeda motor konvensional dalam negeri, yang sejak 2018 angkanya konsisten di 6 juta per tahun. Meski sempat mengalami penurunan karena Covid-19 pada 2020–2022, angka penjualan sepeda motor domestik kembali menembus 6 juta unit pada 2023 hingga sekarang. Artinya, pangsa pasar motor listrik baru mencapai kurang dari satu persen dari seluruh penjualan sepeda motor konvensional domestik.

Rendahnya penyerapan motor listrik terjadi karena beberapa faktor. Menurut riset Litbang Kompas pada 2024, sebanyak 54% responden menyatakan tidak mau membeli kendaraan listrik. Dari rasio warga yang berminat, proporsi responden yang berminat membeli motor listrik mencapai19,9%. Penyebab ketidakmauan membeli kendaraan listrik adalah kekhawatiran jarak tempuh, harga dan nilai jual, kurangnya informasi, dan daya tahan baterai. Dari sisi pembiayaan, harga motor listrik masih dianggap belum ekonomis jika tanpa subsidi dan belum terbentuknya pasar sekunder sebagai pembanding harga.

Dengan mengukur utilitas pabrik dan jumlah penduduk, target produksi 1 juta unit adalah angka yang rasional untuk dicapai produsen sepeda motor listrik, apalagi ditambah ekosistem Molinas. Pertanyaannya, bagaimana pemerintah mendorong penyerapan motor listrik tersebut?

Political Will Pemerintah

Sejalan dengan program Molinas, pemerintah akan mengurangi subsidi BBM secara signifikan pada 2027 untuk mempercepat adaptasi motor listrik. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam konferensi pers Nota Keuangan dan RAPBN 2027 menyebut volume subsidi BBM tertentu dalam RAPBN 2027 ditetapkan sebesar 20,09 juta kiloliter. Turun jauh dibandingkan total kuota volume BBM bersubsidi pada 2026 yang mencapai 48,43 juta kiloliter.

Dengan demikian, berdasarkan angka yang dipaparkan pemerintah, kuota BBM bersubsidi turun sekitar 58,51 persen, atau berkurang sekitar 28,34 juta kiloliter meski secara anggaran justru naik sekitar 20,1% menjadi Rp272,9 triliun dibandingkan dengan outlook APBN 2026 yang dipagu Rp227,3 triliun.

Pemerintah berharap pembatasan BBM bersubsidi akan mendorong konsumen membeli kendaraan Listrik. Menurut hitungan pemerintah, kepemilikan motor listrik bisa menghemat 50–70% daripada ongkos motor konvensional.

Sayangnya, harga motor listrik masih terlampau mahal. Terbukti dari tidak diperpanjangnya subsidi motor listrik sebesar Rp 7 juta pada 2025, angka penjualan motor listrik langsung terjun dari 77 ribu unit pada 2024 menjadi 55 ribu unit pada 2025. Konsumen dan pelaku industri pun sama-sama kelimpungan.

Untuk merealisasi program Molinas kali ini, pemerintah akan menerapkan skema uang muka atau down payment (DP) 0% dan pemberian insentif untuk 1 juta unit motor listrik produksi dalam negeri.

Pembiayaan menjadi aspek krusial dalam keberhasilan elektrifikasi motor. Pasalnya, ceruk pasar motor listrik masih sangat kecil. Sempitnya peluang menjadi biaya tambahan bagi perusahaan pembiayaan dalam mengelola risiko kredit. Apalagi, pasar sekunder motor listrik juga belum terwujud, memaksa lembaga pembiayaan lebih selektif dalam mengucurkan kredit.

Ketika bunga kredit ditekan, tentu harus ada yang menanggung risiko. Keterlibatan Danantara dalam proyek ini menjadi titik terang bahwa risiko pendanaan akan digeser ke sisi fiskal. Bisa saja pemerintah kembali menggelontorkan subsidi atau DP nol persen untuk memperluas kepemilikan sepeda motor listrik. Apalagi, secara politik, hampir tidak ada yang menentang keinginan Presiden Prabowo.

Pemotongan kuota BBM bersubsidi hingga 58,1% dan rencana pemerintah memberi DP nol persen adalah awal yang baik untuk menyambut rencana elektrifikasi. Masalah berikutnya adalah daya beli masyarakat, ketersediaan suku cadang dan ekosistem charging station, dan ketersediaan akses listrik terutama di daerah 3T.

Dalam pemaparannya, Molinas tidak hanya merilis satu merek motor tapi beserta seluruh ekosistemnya termasuk suku cadang, baterai, stasiun pengisian, distributor, dan layanan purnajual. Masalahnya, belum jelas siapa yang akan menjadi partner pemerintah. Apakah perusahaan molis yang sudah mapan, atau membentuk entitas baru hasil kolaborasi swasta dengan pemerintah.

Penentuan bentuk entitas ini sangat krusial. Jangan sampai, proyek Molinas justru menjadi predator industri yang sedang bertumbuh. Pasar motor listrik Indonesia saat ini mengarah ke konsolidasi, menyisakan beberapa merk mapan yang mampu bertahan. Secara kapasitas, pelaku industri sudah siap dengan target pemerintah. Tinggal menunggu aspek teknis yang akan dijabarkan PT Len Industri sebagai pemimpin proyek ini.

Terakhir, masalah ketersediaan listrik. Sistem pengisian baterai motor listrik membutuhkan daya yang stabil dengan minimal daya 1.300 VA (volt ampere). Rumah tangga dengan daya listrik 900va memang masih bisa dipakai, namun beresiko anjlok saat penggunaan bersama barang elektronik lain.

Berdasarkan data terbaru BPS, total pelanggan listrik sektor rumah tangga di Indonesia menyentuh 84,66 juta pelanggan. Porsi pelanggan daya 450 VA berkisar antara 24–25 juta, sisanya sebanyak 60 jutaan masuk golongan 900va keatas yang listriknya mumpuni untuk melakukan pengecasan motor listrik.

Gambar 2. Sebaran elektrifikasi di Indonesia

Sayangnya, dengan total kapasitas terpasang pembangkit listrik nasional yang telah menembus angka 89,5 GW per Juni 2025 dan rasio elektrifikasi 99,83% hingga kuartal I-2026, mayoritas masih terkonsentrasi di Pulau Jawa dan Bali yang menyedot 53,8% distribusi listrik nasional. Sumatera yang rasionya di bawah Pulau Jawa dengan 21% saja masih sering mengalami byarpet, apalagi wilayah lainAlhasil, ekspansi kendaraan listrik menjadi sedikit terhambat.

Situasi ini menjadi pekerjaan rumah pemerintah untuk meratakan akses listrik hingga ke daerah dan mengejar rasio elektrifikasi 100%. Tanpa akses listrik yang memadai, harapan penjualan motor listrik hingga 1 juta unit mustahil tercapai.

Harapan Baru Industrialisasi?

Harus diakui, program elektrifikasi Prabowo menjadi harapan bagi industri manufaktur Tanah Air. Oleh para pengamat, Indonesia disebut memasuki fase deindustrialisasi prematur. Situasi saat kontribusi industri melemah sebelum mencapai titik optimalnya. Kondisi ini mengancam Indonesia gagal menjadi negara maju bahkan terjebak dalam middle-income trap.

Grafik 2. Tren kontribusi sektor manufaktur 2017–2026

Data dari BPS menunjukkan, Indonesia konsisten mengalami pelemahan manufaktur sejak 2017. Ketua Umum Apindo Shinta W. Kamdani juga mengamini gejala ini sebagai akumulasi persoalan yang struktural. Munculnya program elektrifikasi diharapkan mampu membangkitkan gairah industri manufaktur yang mulai menunjukkan perbaikan.

Analis Kebijakan Ekonomi APINDO Ajib Hamdani menilai, rencana Presiden Prabowo Subianto untuk menghadirkan motor listrik nasional dapat menjadi momentum mendorong reindustrialisasi Indonesia, sekaligus memperkuat sektor manufaktur sebagai penggerak utama perekonomian nasional.

Ajib memberi contoh Vietnam, sektor manufaktur Vietnam berkembang pesat karena dukungan regulasi yang pro dengan pertumbuhan ekonomi domestik dan pemerintah mendorong low cost of doing business. Dengan insentif tepat sasaran, sektor manufaktur Vietnam berkontribusi lebih dari 23% dari PDB yang ada, bahkan beberapa sektor lainnya mencapai 30%. Bahkan, produk nasional mereka, Vinfast, sudah bisa melakukan ekspor ke Indonesia sejak 2025.

Agar bisa disebut sebagai proyek nasional, Ajib memberi dua syarat. Pertama, mempunyai TKDN lebih dari 50%, termasuk IP lokal seperti chassisbody packwiring, dan lain-lain. Beberapa motor listrik terlaris seperti Polytron Fox-S sudah mengandung TKDN 60%, Alva N3 dengan 41,15%, sudah memenuhi ambang batas 40%. Kedua, kepastian rantai pasok komponen lokal yang melibatkan Industri Kecil Menengah (IKM). Pelibatan IKM dalam pembuatan komponen Molinas akan menggerakkan seluruh perekonomian dan menciptakan lapangan kerja yang dijanjikan Molinas dalam pemaparan Bakom RI.

Analisis Media Massa

Isu Molinas baru mendapatkan eksposur media setelah diresmikan Presiden Prabowo pada 13 Agustus 2026. Hasil monitoring news analytic tool Newstensity menemukan 3.408 berita yang memuat kata kunci “molinas” dan “motor listrik nasional” antara 11 sampai 19 Agustus 2026. Puncaknya terjadi pada hari peresmian dengan 1.594 berita.

Grafik 3. Linimasa pemberitaan Molinas, sumber: Newstensity

Narasi ini sempat ramai di media, lalu menurun signifikan sejak 15 Agustus 2026 hingga saat ini karena fokus media terokupansi pada pemberitaan peringatan kemerdekaan Indonesia. Selain itu, belum ada narasi baru atau pengumuman lanjutan dari pemerintah untuk detail teknis Molinas.

Grafik 4. Analisis topik dan media

Dari pengamatan manual 3.135 berita yang relevan dengan Molinas, topik Peresmian Molinas oleh Presiden Prabowo mendominasi eksposur berita dengan 1.214 berita, lebih dari sepertiga pemberitaan. Peresmian ini ramai mendapat tanggapan dari politisi, Danantara, dan pengusaha motor listrik sebagai angin segar industri motor listrik nasional.

Topik dominan berikutnya adalah wacana DP nol persen untuk menarik minat masyarakat bertransisi ke motor listrik. Selama ini, faktor pembiayaan menjadi bottlenecking dalam transisi ke kendaraan listrik. Sejumlah lembaga pembiayaan, bank, dan Danantara mendukung rencana ini agar rencana 1,5 juta motor listrik terlaksana di 2028. Pada saat yang sama, pemerintah juga menyajikan opsi tukar tambah motor konvensional ke motor listrik. Topik ini mendapat 102 berita. Dari kedua skema di atas, belum ada detail teknis lanjutan yang bisa diproses masyarakat maupun lembaga pembiayaan.

Presiden Prabowo juga berniat memberi insentif bagi Perusahaan motor Listrik jika sukses mencapai milestone produksi satu juta unit. Rencana ini ditanggapi Menko Perekonomian Airlangga Hartarto yang menyebut anggaran insentif sudah tersedia kapanpun capaian itu dipenuhi.

Media koranmanado.co.id menjadi media dengan publikasi terbanyak, mencapai 110 berita. Media tier 1 seperti kompas.com dan detik.com juga dominan dengan 68 dan 50 berita. Adapun media cetak yang banyak memberitakan isu ini adalah Harian Kontan dan Sinar Indonesia Baru, masing-masing dengan empat berita.

Grafik 5. Detail engagement Instagram untuk kata kunci Molinas, sumber: Socindex

Di media sosial Instagram, isu Molinas mendapatkan traksi yang cukup besar dengan 244.167 engagement, 47.004 komentar, dan 189.870 likes yang berasal dari 187 posts. Secara kronologis, lonjakan percakapan juga terjadi pada 12 Agustus 2026 saat Presiden Prabowo meresmikan Molinas.

Gambar 3. Tangkapan layar unggahan akun Instagram Presiden RI

Konten dengan engagement terbanyak datang dari akun resmi Presiden Republik Indonesia @presidenrepublikindonesia yang meraup 60 ribu likes, 14,4 ribu komentar, dan reshare sebanyak 682 kali. Sayangnya, komentar di unggahan itu didominasi komentar negatif warganet.

Gambar 4. Tangkapan layar komentar di unggahan akun Instagram Presiden RI

Komentar ini menunjukkan skeptisisme publik pada kesuksesan program. Beberapa membandingkan Molinas dengan nasib Esemka yang sama-sama dikawal seorang presiden, akan tetapi berakhir tanpa kejelasan. Sebagian lagi menyuarakan kritik pada personal Presiden Prabowo, kritik pada MBG dan Kopdes yang dianggap merebut pos anggaran lain, dan ejekan warganet agar tidak mendengar pidato Presiden saat perayaan 17 Agustus 2026.

Epilog

Tujuan proyek Molinas sungguh mulia, menekan impor BBM dan membesarkan ekosistem motor listrik yang sangat penting untuk mencapai tujuan NZE. Industri dalam negeri juga sudah memiliki kapasitas untuk mewujudkan keinginan Prabowo. Namun, ada pekerjaan rumah terkait persepsi masyarakat dan kesiapan akses listrik yang merata hingga ke daerah. Tahapan eksekusi yang baik dan berimbang melibatkan swasta juga dinantikan agar program ini tidak sekadar menarik di atas kertas, tapi juga sukses menghidupkan reindustrialisasi Indonesia.