Super El Nino datang. Siklus kehadirannya semakin cepat. Dampaknya pun tak bisa disepelekan. Kemarau menjadi lebih kering dan lebih panjang.
Super El Nino atau El Nino Godzilla datang. Dunia mulai bersiap untuk menghadapi dampaknya. Sejarah mencatat El Nino telah menyebabkan kerugian ekonomi yang cukup besar. Kehadiran El Nino akan menambah tekanan pada perekonomian dunia yang sedang menghadapi ketidakpastian akibat perang.
Analisis terbaru dari The Weather Channel menyebut kondisi saat ini sudah di ambang Super El Nino, yakni El Nino pada kategori terkuat dan berpotensi memicu cuaca ekstrem di berbagai belahan dunia. Pada ahli menyebut respons atmosfer kini mulai mengikuti pemanasan laut di Samudra Pasifik tropis. Kondisi ini menjadi salah satu tanda penting bahwa El Nino semakin matang dan dampaknya akan meluas dalam beberapa bulan mendatang.
Laporan tersebut menjelaskan bahwa suhu permukaan laut di kawasan Pasifik ekuator meningkat jauh lebih cepat daripada pola El Nino pada umumnya. Pemanasan ini memperkuat interaksi antara laut dan atmosfer sehingga mempercepat perkembangan fenomena tersebut. Kawasan Asia Tenggara diperkirakan mengalami kondisi yang lebih kering dan lebih panas dari biasanya pada Agustus hingga Oktober seiring menguatnya El Nino.
Organisasi Meteorologi Dunia (World Meteorological Organization/WMO) mengeluarkan peringatan El Nino akan berkembang menjadi kategori kuat pada periode Agustus-Oktober 2026. Hasil pemodelan sejumlah pusat prakiraan iklim global menunjukkan bahwa anomali suhu permukaan laut musiman diperkirakan melampaui 2,9 derajat Celcius di wilayah pemantauan utama El Nino.

Gambar 1. Dampak El Nino di berbagai belahan dunia (Sumber: WMO)
Penguatan El Nino juga diperkirakan terjadi bersamaan dengan berkembangnya Indian Ocean Dipole (IOD) positif, yakni kondisi ketika suhu permukaan laut di Samudra Hindia bagian barat lebih hangat dibandingkan wilayah timur. Pada saat yang sama, suhu permukaan laut di Samudra Atlantik tropis diperkirakan tetap berada di atas rata-rata. Menurut WMO, kombinasi faktor-faktor tersebut berpotensi memperkuat dampak iklim di berbagai kawasan, mulai dari kekeringan, banjir, hingga meningkatnya kebakaran hutan, terutama di kawasan sekitar Samudera Hindia.
Menurut analisis sejumlah model iklim yang dilakukan ASEAN Specialised Meteorological Centre, sejumlah wilayah di kawasan tersebut, termasuk sebagian besar wilayah Indonesia, berpeluang tinggi mengalami curah hujan di bawah normal. Suhu juga diperkirakan berada di atas rata-rata kawasan selama periode tersebut.
Sementara BMKG menyebut Indonesia memasuki El Nino kuat karena nilai indeks Nino 3.4 dasarian (per 10 hari) sebesar +2.26 dan Southern Oscillation Index (DOI) sebesar -28.2. Hal ini menandakan berlangsungnya El Nino kuat yang diperkirakan dapat terus menguat.
Profesor Riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof Dr Erma Yulihastin menyebut Super El Nino sudah terbentuk. Intensitasnya diperkirakan naik 0,1 derajat per minggu. El Nino Super terkonfirmasi dengan indeks harian El Nino relatif 3,4 yang telah mencapai lebih dari 2 derajat Celcius pada 31 Juli 2026.
BMKG mencatat El Nino tahun ini telah berkembang lebih cepat dari perkiraan awal. Saat BMKG merilis prediksi pada Maret 2026, fenomena tersebut diperkirakan hanya berada pada kategori moderat. Namun, Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) pada 2 Juni 2026 menetapkan El Nino telah aktif dan hasil analisis BMKG pada periode Mei-Juni-Juli menunjukkan intensitasnya telah masuk kategori kuat.
El Nino tahun ini disebut datang lebih cepat dibandingkan pola yang selama ini dikenal terjadi di setiap sekitar empat tahun sekali. Indonesia sebelumnya mengalami El Nino kuat pada 2015 (sangat kuat), kemudian 2019 (intensitas lemah tetapi IOD+ kuat), 2023 (hadir secara kuat) dan kini kembali muncul 2026 (diprediksi kembali kuat). Percepatan ini, menurut Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani, dipengaruhi oleh anomali iklim global akibat perubahan iklim. Namun, ia tidak dapat memastikan apakah akan kembali terjadi percepatan kemunculan El Nino. Menurut Faisal, kemunculan El Nino tidak dapat dipastikan secara matematis karena dipengaruhi dinamika iklim global yang terus terjadi.
Dampak El Nino Super
El Nino Super menyebabkan kemarau yang lebih kering dan panjang. BMKG menyebut Juli 2026 menjadi bulan Juli terkering di Indonesia sejak 1991 berdasarkan rata-rata curah hujan nasional, seiring menguatnya El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif. Pelaksana Tugas Deputi Bidang Klimatologi BMKG Fachri Radjab mengatakan berdasarkan analisis BMKG, rata-rata curah hujan nasional pada Juli 2026 menempati peringkat pertama sebagai bulan Juli terkering sejak pencatatan pada 1991.
Fachri mengatakan analisis BMKG menunjukkan hampir seluruh Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT) telah mengalami curah hujan rendah hingga sangat rendah selama Juli 2026. Kondisi serupa juga terjadi di Sumatera bagian selatan, Kalimantan bagian selatan, sebagian Sulawesi, Maluku, dan Papua, kecuali Papua Tengah dan Papua Pegunungan.
Pemantauan BMKG juga menunjukkan kekeringan mulai meluas di berbagai daerah. Hingga awal Agustus 2026, BMKG mencatat terdapat 306 titik pengamatan yang mengalami hari tanpa hujan (HTH) ekstrem, yakni lebih dari 60 hari berturut-turut tanpa hujan. Dari jumlah tersebut, rekor terpanjang tercatat di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, yang mengalami 90 hari berturut-turut tanpa hujan.
Secara keseluruhan, BMKG mencatat sebanyak 1.657 titik pengamatan mengalami HTH sangat panjang atau 31-60 hari berturut-turut tanpa hujan, sedangkan 322 titik lainnya mengalami HTH panjang atau 21-30 hari berturut-turut tanpa hujan.
Fachri mengatakan penurunan curah hujan akibat El Nino dan IOD positif tidak terjadi secara merata di seluruh wilayah Indonesia. Menurut dia, Aceh, Sumatera Utara, sebagian Riau, sebagian Sumatera Barat, dan Kalimantan Utara masih diperkirakan mengalami curah hujan menengah hingga tinggi pada Agustus ini karena memiliki karakteristik pola musim yang berbeda.
BMKG memprediksi puncak musim kemarau 2026 terjadi pada Agustus hingga September. Sekitar 54 persen wilayah Indonesia diperkirakan mengalami puncak kemarau pada Agustus, sementara sebagian wilayah lainnya akan mengalaminya pada September.
Kemarau yang lebih kering dan basah meningkatkan risiko di berbagai sektor, dengan dampak yang terjadi sangat luas mulai dari kekeringan, gagal panen, hingga kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan, dampak El Nino Super tidak hanya dirasakan sektor pertanian, tetapi juga penyediaan air bersih, pengelolaan waduk dan irigasi, kebakaran hutan dan lahan, energi, kesehatan, kelautan, hingga ekonomi masyarakat.
Dampak El Nino sudah dirasakan di berbagai daerah. Kekeringan dilaporkan telah melanda sejumlah daerah. Di Kota Cirebon, Jawa Barat, dua kelurahan yakni Argasunya dan Kalijaga, Kecamatan Harjamukti, harus mengandalkan bantuan air bersih untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari masyarakat. Kedua kelurahan tersebut berada di tempat tinggi yang sulit mengakses air baik dari sumur artesis maupun lainnya. Kasi Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Cirebon, Arief Adhitya Firmansyah, mengatakan sekitar 14 ribu jiwa terdampak kekeringan dan krisis air bersih setiap tahunnya.
Sementara BPBD Kabupaten Tangerang mencatat kemarau panjang telah menyebabkan kekeringan sehingga memicu krisis air bersih di 64 Desa/Kelurahan yang tersebar di 13 kecamatan. Rinciannya yakni Kecamatan Legok, Tigaraksa, Jambe, Panongan, Rajeg, Kronjo, Curug, Kelapa Dua, Cikupa, Sukadiri, Balaraja, Mekar Baru serta Pagedangan. Kepala BPBD Kabupaten Tangerang Achmad Taufik mengatakan kemarau panjang telah menyebabkan terjadinya kekeringan yang kemudian memicu sejumlah masalah seperti kekurangan air bersih, kebakaran, dan potensi puso atau gagal panen pada lahan pertanian. Kondisi ini berlangsung sejak Mei, dan diperkirakan terus terjadi hingga Oktober 2026.
Kondisi serupa terjadi di Yogyakarta. BMKG Yogyakarta mencatat mayoritas wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) masuk pada kategori siaga kekeringan hingga Juli 2026. Kepala Stasiun Klimatologi Yogyakarta, Reni Kraningtyas menjelaskan musim kemarau kali ini berpotensi seperti pada tahun 2023 saat terjadi El Nino moderat hingga tinggi terjadi di wilayah DIY, sehingga membuat potensi turun hujan sangat rendah. Hingga Senin (27/7), mayoritas wilayah di DIY hari tanpa hujan (HTH) sudah mencapai lebih dari 31 hari dengan status siaga.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman telah menetapkan status siaga darurat bencana kekeringan, dengan lima wilayah yang menjadi perhatian. Kepala Pelaksana BPBD Sleman, Bambang Kuntoro menyampaikan, status siaga tersebut ditetapkan sebagai langkah mitigasi seiring dengan masuknya musim kemarau pada Juli 2026. Pemkab Sleman telah menyiapkan anggaran hingga Rp 25 juta atau setara 50 tangki air bersih.
Sejumlah lahan pertanian di Kalimantan Selatan juga terdampak kekeringan. Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) mencatat seluas 6.691 hektare lahan pertanian terdampak kekeringan. Kekeringan yang terjadi bisa menyebabkan sebagian tanaman mengalami puso atau gagal panen. Data BPTPH per 31 Juli 2026, lahan padi yang terdampak kekeringan mencapai 6.691 hektare, dengan luas puso sekitar 1,3 hektare. Sementara pada komoditas jagung, kekeringan terjadi di lahan seluas 5,5 hektare dan hingga kini belum dilaporkan adanya puso.
Dampak Ekonomi
El Nino patut diwaspadai dan diantisipasi karena dampaknya yang luas pada ekonomi. Analis menyebut “climateflation”, sebuah istilah yang mengacu pada dampak perubahan iklim terhadap inflasi. El Nino cenderung menyebabkan perlambatan ekonomi dan menyebabkan kerugian hingga triliunan dolar AS, terutama karena memicu gangguan pola cuaca yang berdampak pada sektor pertanian, infrastruktur dan rantai suplai.
BRIN menyebut krisis iklim menyebabkan penurunan produktivitas pangan yang signifikan, dan kerugian ekonomi makro. Potensi kerugian ekonomi makro mencapai Rp112,2 triliun, dengan estimasi kerugian akibat krisis iklim mencapai 0,5% dari total PDB Indonesia pada 2024. Sedangkan dampak ekonomi sektor pangan setara 0,18% hingga 1,26% PDB.
Sementara analis Goldman Sachs menyebut kuatnya El Nino pada tahun ini dapat menyebabkan lonjakan harga komoditas pangan global hingga 15,8%. Dampak sepenuhnya diperkirakan baru “terealisasi penuh” pada paruh kedua tahun 2028.
IMF dalam risetnya menyebut El Nino secara signifikan berdampak pada harga-harga komoditas. Tingginya temperatur dan kekeringan saat El Nino, terutama di Asia Pasifik tidak hanya meningkatkan harga komoditas selain bahan bakar, akan tetapi juga meningkatkan permintaan batu bara dan minyak mentah akibat rendahnya suplai dari PLTA. Kenaikan permintaan tersebut memicu kenaikan harga.
Secara umum El Nino cenderung menyebabkan inflasi dengan dampak berkisar 0,1 dan 1 persen poin. Dampak ini merupakan hasil dari kenaikan harga bahan bakar dan non-bahan bakar, serta hasil dari kebijakan pemerintah seperti menahan buffer stok bijih-bijihan, ekspektasi inflasi yang ada, dan kuatnya permintaan domestik.
Sejarah mencatat El Nino telah menyebabkan biaya ekonomi yang cukup besar. Pada tahun
1982-83, El Nino menyebabkan biaya ekonomi hingga 4,1 triliun dolar AS. Sementara pada tahun 1997-98 El Nino menelan biaya ekonomi 5,7 triliun dolar AS. Angka tersebut besar dan hampir mendekati biaya ekonomi akibat Great Recession 2007 dan 2008.
Sementara World Food Programme (WFP) mencatat El Nino tahun 2015-2016 berdampak pada keamanan pangan 60-100 juta orang. Proyeksi awal mengindikasikan El Nino 2026-2027 akan meningkatkan jumlah penduduk yang terkena dampak ketidakamanan pangan secara akut hingga 49 juta orang setara 22%, atau dari 225 juta menjadi 274 juta orang. Angka ini diperoleh berdasarkan analisis di 45 negara yang telah dipertimbangkan soal ketidakamanan pangan, di mana El Nino secara signifikan berpengaruh pada pola curah hujan, temperatur, banjir dan kekeringan.
Antisipasi & Penanganan Dampak
Pemerintah menyiapkan langkah strategis untuk menghadapi potensi El Nino kuat pada semester II 2026. Langkah-langkah tersebut dituangkan dalam sebuah policy brief yang menjadi panduan respons lintas sektor guna mengurangi risiko terhadap ekonomi, ketahanan pangan, kesehatan, hingga sumber daya air. Policy brief ini tidak hanya memetakan risiko yang mungkin terjadi, tetapi juga merumuskan langkah respons dalam empat klaster pembangunan utama sebagai dasar pengambilan keputusan. Empat klaster mencakup sektor-sektor paling rentan terhadap dampak El Nino yakni: hutan, lahan, dan pertanian; energi dan sumber daya air; kesehatan masyarakat; pangan akuatik dan perikanan.
Pada 28 Juli 2026, Presiden Prabowo Subianto secara khusus menggelar rapat terbatas untuk membahas strategi pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) untuk mengantisipasi kedatangan El Nino. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengungkapkan BMKG memproyeksikan pergeseran waktu tibanya El Nino dari tahun 2027 menjadi 2026. Perubahan ini berpotensi membuat periode kekeringan berlangsung lebih cepat serta selesai lebih lambat. Untuk itu, pemerintah menyusun sejumlah strategi untuk penanganannya.
Sementara BMKG memastikan akan melakukan modifikasi cuaca dalam upaya memitigasi terjadinya kekeringan yang meluas dan berkepanjangan imbas dari fenomena cuaca ekstrem El Nino yang melanda Indonesia. El Nino dengan fase kuat dan lebih kering sedang menerpa sebagian besar wilayah Indonesia bagian Selatan. Beberapa lokasi yang sejatinya menjadi tempat penampungan air seperti waduk dikhawatirkan akan kering dalam waktu dekat ini karena curah hujan yang menjadi sangat rendah.
Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Rihandoko Seto mengatakan, pihaknya telah menjalin koordinasi dengan para pemangku kepentingan dan kementerian terkait untuk melakukan modifikasi cuaca. Modifikasi cuaca ini diharapkan bisa membuat sebagian wilayah masuk dalam musim hujan, agar waduk-waduk yang ada bisa tetap terisi air.
Meski begitu, BMKG mengakui melakukan modifikasi cuaca di masa El Nino pada fase saat ini tidaklah mudah karena kondisi awan yang biasa dijadikan serapan untuk menyemai menjadi lebih sedikit. Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan, pihaknya bersama dengan BNPB melakukan beragam kemungkinan guna meminimalisir dampak dari apabila terjadinya kebakaran hutan.
Dari sisi ekonomi, pemerintah sedang menyiapkan stimulus untuk menghadapi El Nino. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan pemerintah tengah menyiapkan anggaran khusus untuk insentif penanganan dampak El Nino pada semester II-2026. Tambahan anggaran tersebut menjadi bagian dari paket stimulus yang sedang disiapkan pemerintah. Sebagian dana kemungkinan akan masuk ke dalam skema stimulus ekonomi. Besaran dan skema stimulus El Nino ini masih dalam tahap pembahasan.
Para petani pun bersiap. Di Desa Salakan, Kecamatan Teras, Kabupaten Boyolali, petani untuk mengubah strategi bercocok tanam. Sejumlah petani memilih untuk meninggalkan tanaman padi dan beralih membudidayakan jagung serta tembakau yang dinilai jauh lebih tahan terhadap kondisi lahan dengan pasokan air minim.
Ramai di Media Massa, Sepi di Media Sosial
Ancaman El Nino meramaikan pemberitaan media. Dengan menggunakan kata kunci “El Nino” dan “Kekeringan”, ditemukan 3.903 berita terkait selama periode 28 Juli hingga 5 Agustus 2026. Dari jumlah berita tersebut, 67 persen di antaranya merupakan berita dengan sentimen positif.
Berita sentimen positif didominasi oleh topik-topik tentang antisipasi dan penanganan dampak El Nino. Sementara 31 persen pemberitaan bersentimen negatif, terutama berkaitan dengan dampak yang ditimbulkan oleh El Nino seperti gagal panen, kenaikan harga pangan, inflasi, dan lain-lain.

Puncak pemberitaan terjadi pada 31 Juli 2026, bersamaan dengan semakin masifnya media mengulas kesiapan menghadapi El Nino. Apalagi BMKG pada tanggal tersebut merilis prediksi bahwa El Nino diprediksi berlangsung hingga kuartal pertama 2027. BMKG juga memperkuat langkah mitigasi melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di berbagai wilayah prioritas Indonesia, sekaligus menggalang respons cepat dan terintegrasi dari seluruh pihak guna mengantisipasi lonjakan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kekeringan.

Presiden Prabowo, Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani, Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo, dan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menjadi narasumber yang paling banyak dikutip terkait topik ini. Jika Kepala BMKG banyak dikutip terkait penjelasan El Nino dan upaya-upaya yang dilakukan, maka Menteri PU banyak dikutip terkait upaya pemerintah untuk menjaga infrastruktur terutama berkaitan dengan pasokan air. Sedangkan Mentan dikutip terkait stok pangan dan juga upaya antisipasi gagal panen akibat kekeringan

Di media sosial, El Nino tidak banyak mendapatkan perhatian. Pada periode 28 Juli hingga 5 Agustus 2026, hanya terdapat 53 talk di X (Twitter) dari 36 akun (author). Akun-akun yang mengamplifikasi isu ini mayoritas merupakan akun media sosial dari media massa.

Percakapan lebih marak di media sosial Instagram, yang mencatat 106 total post. Di Instagram, unggahan tidak didominasi akun media massa, akan tetapi juga akun-akun resmi kementerian/lembaga.

Epilog
Super El Nino sudah bersiap menyapa berbagai wilayah di dunia. Sejarah mencatat dampaknya yang tak bisa disepelekan. Setiap negara di berbagai dunia sudah mulai menghitung dampaknya, termasuk Indonesia. Antisipasi yang tepat dibutuhkan agar El Nino tidak menambahkan tekanan terhadap perekonomian yang kini sedang mendapatkan berbagai tekanan akibat ketidakpastian global. Tekanan ekonomi dan klimatologi secara bersamaan bisa memicu risiko politik. Tak hanya itu, kepedulian terhadap isu ini juga perlu terus disampaikan agar masyarakat lebih siap dalam mengantisipasi dampaknya.