Meski sudah dikenal secara luas, sebuah brand harus terus melakukan kampanye (campaign) secara berkelanjutan. Tujuannya mungkin bukan lagi untuk sekadar meningkatkan kesadaran publik terhadap brand (brand awareness), tapi bisa jadi untuk mempertahankan relevansi, membangun hubungan emosional dengan konsumen, meningkatkan loyalitas, memperluas audiens, hingga menahan tekanan kompetitor.
Fore Coffee adalah salah satu brand yang menggelar kampanye secara berkesinambungan dalam beberapa tahun terakhir. Hingga Juni 2026, jenama yang berdiri pada 2018 ini telah memiliki 377 gerai. Sebanyak 363 gerai Fore Coffee berada di 60 kota di Indonesia, 10 gerai Fore Donut, dan 4 gerai Fore Coffee di Singapura. Pada 2026, Fore Coffee melakukan ekspansi gerai ke kota tier 2 (rising urbanities) dan tier 3 (slow adopters) guna memenuhi permintaan produk minuman kopi di kota-kota tersebut.
Kinerja Fore Coffee pun tak kalah cemerlang. Pada paruh pertama 2026, Fore mengantongi laba hingga Rp 56,48 miliar, naik 34,39 persen dari periode yang sama di tahun sebelumnya yang mencapai Rp 42,03 miliar. Pertumbuhan profit di enam bulan pertama tersebut ditopang oleh kenaikan penjualan bersih yang naik 51,71 persen, dari Rp 662,37 miliar di semester I/2025 menjadi Rp 1 triliun lebih di semester I/2026.
Meski sudah memiliki banyak gerai dan kinerja keuangan yang gemilang, Fore tetap terus menggalakkan campaign dengan fokus yang beragam. Dentuman kampanye Fore terdengar nyaring sejak 2022. Di era awal, Fore berfokus pada inovasi produk lewat kolaborasi bersama publik figur. Almarhum Vidi Aldiano kala itu diangkat sebagai Chief Savor Advisor yang menggawangi kelahiran Butterscotch Sea Salt Latte. Kini, menu itu menjadi salah satu produk Fore yang paling popular.
Selanjutnya, kampanye Fore menyasar pada pemberdayaan anak muda dan keberlanjutan lingkungan sebagai bagian dari komitmen Environmental, Social, and Corporate Governance (ESG). Pada tahun 2023, Fore menggandeng selebriti Cinta Laura Kiehl sebagai Social & Sustainability Ambassador untuk menggaungkan kampanye #FOREsentiallyYou dan #FOREsponsible.
Jika #FOREsentiallyYou berfokus pada pembentukan kesadaran akan kesehatan mental khususnya pada anak muda, #FOREsponsible menitikberatkkan pada kesadaran untuk menjaga lingkungan. Di kampanye ini, FORE melakukan upcycle sampah menjadi barang-barang kreatif yang digunakan di outlet seperti meja, kursi, dan kabinet. Pada momen yang sama, FORE juga meluncurkan beberapa produk musiman seperti Buttercream Latte, Buttercream Tiramisu Latte, serta Light Buttercream Latte.
Di 2024, Fore menghadirkan kampanye #FOREvolution untuk pengembangan produk yang lebih luas lewat tagline Tren Ngopi Baru (The New Coffee Culture). Lewat inovasi rasa dan cara menikmati kopi yang baru. Di kampanye #FOREvolution ini, Fore juga menggadeng 8 orang pesohor yang disebut sebagai Fore Essential Icon untuk mewakili produk Fore yang berbeda-beda. Beberapa di antaranya adalah Dion Wiyoko mewakili minuman Americano series dan Cathy Saron mewakili minuman Buttercream series. Pada kampanye ini, ada tiga produk baru yang diperkenalkan yakni Cappuccino Caramelo, Vanilla Oat Latte, dan Matcha Strawberry Cream.
Tahun ini, Fore kembali lagi menggeber kampanyenya dengan rupa yang berbeda lewat Setiap Fore Punya Cerita.
Brand Awareness Tinggi, Saatnya Ciptakan Koneksi
Fore mengungkap bahwa saat ini brand awareness terhadap brand-nya semakin naik dari tahun ke tahun. Selain itu, word of mouth secara organik juga makin kuat. Tingginya brand awareness ini tampaknya membuat Fore harus mencari cara agar kampanye yang dilakukan bisa membidik objektif lain di luar awareness. Mungkin salah satunya loyalitas. Bisa jadi hal ini yang melabuhkan pilihan Fore untuk menggunakan pendekatan emosional dan pengalaman.
Kampanye teranyar Fore #SetiapForePunyaCerita diluncurkan pada awal Juni 2026. Berbeda dengan kampanye terdahulu yang lebih menitikberatkan pada inovasi produk, pemberdayaan, dan keberlanjutan, kali ini Fore menyorot koneksi emosional antara Fore dengan semua pihak yang ada dalam ekosistem Fore. Mulai dari barista, pegawai, outlet, dan yang terpenting konsumen.

Gambar 1. Post Perdana Pengenalan Tagar dan Visual Kampanye #SetiapForePunyaCerita di IG Fore Coffee
Jangkara mengobservasi kampanye #SetiapForePunyaCerita lewat akun sosial media dengan jumlah pengikut terbanyak yakni Instagram (400 ribu pengikut). Sejak 6 Juni – 21 Juli 2026, ada 39 unggahan (post/reels) yang menggunakan tagar #SetiapForePunyaCerita. Ciri khas dari kampanye ini adalah kombinasi narasi koneksi emosional dengan gaya storytelling yang kental.
Bila dilihat dari kronologi unggahannya, Setiap Fore Punya Cerita dijadikan sebagai payung yang menghubungkan cerita konsumen, brand ambassador, produk, outlet, komunitas, hingga acara musik. Dengan pendekatan ini, Fore ingin memperluas persepsi dari sekadar merek minuman menjadi merek yang hadir dalam berbagai momen kehidupan konsumen.

Gambar 2. Unggahan Konten Kampanye #SetiapForePunyaCerita di IG Fore Coffee
Meski banyak cerita yang disampaikan dalam paying #SetiapForePunyaCerita, delivery-nya dilakukan secara bertahap di 1,5 bulan terakhir. Pacing-nya diatur sedemikian rupa. Begini kurang lebih fasenya.
| Tahap | Bentuk Konten | Tujuan |
| Pengenalan | Pengumuman tagline dan visual kampanye | Membangun pengenalan terhadap ide utama |
| Pembuktian awal | Cerita konsumen, figur pilihan, mantan barista, dan outlet | Menunjukkan bahwa cerita Fore berasal dari pengalaman nyata |
| Puncak peluncuran | Pengumuman empat brand ambassador dan kembalinya Starrycano | Meningkatkan jangkauan dan perhatian publik |
| Pendalaman cerita | Cerita personal masing-masing BA dan integrasi produk | Membentuk asosiasi emosional sekaligus memperkenalkan menu yang baru maupun yang sudah lama eksis |
| Partisipasi | Kompetisi cerita, Post Card Fore, dan ConForesation Card | Mengubah audiens dari objek menjadi subjek |
| Perluasan pengalaman | Cerita outlet, komunitas lokal, booth dan konser Afgan | Membawa kampanye dari media sosial ke pengalaman langsung |
Tabel 1. Tahapan Kampanye #SetiapForePunyaCerita di IG Fore Coffee periode 6 Juni – 21 Juli 2026
Kampanye Setiap Fore Punya Cerita dimulai dengan mengenalkan masing-masing elemen kampanye. Dari hasil observasi ada beberapa elemen kampanye yang dibuat yakni:
- Tagar/visualisasi (Video tagar dan kampanye)
- Cerita/pengalaman pribadi dari berbagai pihak (Cerita figur terpilih,pegawai, barista, konsumen, dsb)
- Brand ambassador (Sheila Dara, Syifa Hadju, Afgan, Baskara Mahendra)
- Produk baru dan lama (Starrycano, Butterscotch Sea Salt Latte, Ice Americano)
- Alat pembantu pembuat cerita (ConFOREsation, Kartu Pos Fore)
- Komunitas (Fore Club)
- Sponsorship (Dukungan terhadap Konser BA)
- Dsb
Setelah masing-masing elemen kampanye ini dikenalkan, barulah kemudian Fore menggabungkan beberapa elemen dalam satu konten kampanye. Misalnya Sheila Dara x Starrycano, Syifa Hadju x Butterscoth Sea Salt Latte, Baskara Mahendra x Ice Americano, Sheila Dara x ConFOREsation, Afgan x Sponsorship dan sebagainya.

Grafik 1. Elemen Kampanye #SetiapForePunyaCerita 6 Juni – 21 Juli 2026
Berdasarkan pengelompokan konten kampanye pada grafik di atas, elemen brand ambassador mendapatkan konten paling banyak yakni 8 konten. Hal ini menunjukkan pengenalan brand ambassador menjadi salah satu elemen yang paling penting dalam kampanye ini.
Empat brand ambassador atau Fore Coffee Ambassador diperkenalkan pada 24 Juni atau 18 hari setelah kampanye #SetiapForePunyaCerita diluncurkan. Mereka adalah Sheila Dara (aktris), Afgan (musisi), Syifa Hadju (aktris), dan Baskara Mahendra (aktor). Keempatnya dipilih karena mereka memang pelanggan Fore. Hal yang ingin ditekankan adalah bahwa pemilihan ini didasarkan pada koneksi nyata antara Fore and para pesohor tersebut, serta menjadi jembatan antara brand dan konsumen yang setiap harinya menjadikan Fore Coffee bagian dari cerita hidup mereka.
Keempat brand ambassador ini juga membawa pesan personalnya masing-masing dengan Fore dalam kampanye ini. Sebagai lactose intolerant, Sheila Dara menganggap Fore menjadi gerbang awal untuk menikmati kopi lewat seri americano, salah satunya lewat Berry Manuka Americano. Kehadiran Sheila juga disambut positif oleh warganet, karena empat tahun sebelumnya almarhum suami Sheila yakni Vidi Aldiano juga menjadi bagian dari kampanye Fore.
Afgan membawa pesan emosinya sendiri, di mana Fore menjadi moodbooster, terkhusus saat sedang manggung. Syifa Hadju pun demikian, ia merasa Fore adalah bagian dari kehangatan keluarga, di mana saat ia berkumpul dengan keluarga, Fore jadi minuman pilihan, khususnya untuk varian Butterscoth Sea Salt Latte. Terakhir, ada Baskara Mahendra yang menilai Fore menjadi teman perjalanannya, khususnya untuk menu ice americano.
Konten elemen terbanyak kedua adalah visualisasi kampanye sebanyak 5 kali. Visualisasi konten ini mulai dari pengenalan tagar, font, warna, ambience, mood, dan lain sebagainya. Visualisasi kampanye yang kerap muncul secara regular adalah video storytelling tentang kelegaan di hari Jumat, di mana banyak orang -orang mulai menyambut weekend dan melepaskan sejenak beban pekerjaan yang telah menggelangyut lima hari sebelumnya.. Video ini seolah menegaskan positioning bahwa Fore sebagai teman menikmati kebebasan jelang akhir pekan itu.
Konten elemen terbanyak ketiga adalah cerita dari figur-figur tertentu dengan jumlah pengikut media sosial yang cukup banyak, khususnya mereka yang bekerja di bidang kreatif seperti desainer, content creator, traveller, dan sebagainya. Sehingga, kampanye ini tidak hanya ditopang oleh brand ambassador, tapi juga para pemengaruh.
Konten elemen terbanyak keempat merupakan comeback product. Hal yang menarik dari comeback product ini adalah prosesnya terlihat partisipatif. Dimulai dari Fore bertanya ke publik, kira-kira produk apa yang bisa dibawa kembali masuk ke menu Fore. Lalu dari jawaban-jawaban yang masuk ke kolom komentar, muncullah nama menu Starrycano atau menu americano dengan rasa belimbing yang segar. Fore bertanya kembali untuk mencari konfirmasi ke publik. Tak berapa lama setelah itu, menu ini pun resmi dikembalikan ke menu. Kembalinya menu Starrycano dijadikan sebagai media untuk menunjukkan bahwa Fore adalah brand yang mendengarkan keinginan konsumen.
Kelima, konten elemen kampanye yang juga banyak muncul adalah story-making experience tools. Alat bantu yang diciptakan adalah ConFOREsation card. Kartu ini merupakan kartu-kartu yang berisi pertanyaan-pertanyaan yang bisa ditanyakan saat sedang ngobrol bersama di outlet Fore. Pertanyaan-pertanyaan tersebut disusun oleh para brand ambassador. ConFOREsation card tersebut dijadikan sebagai alat bantu untuk menciptakan cerita dan pengalaman konsumen di outlet Fore.
Kampanye #SetiapForePunyaCerita ini merupakan sebuah ekosistem. Dalam ekosistem tersebut ada elemen-elemen kampanye yang melibatkan banyak subjek. Dari hasil analisis subjek yang paling banyak muncul adalah brand ambassador, konsumen, tagline kampanye, produk, experience tools, dan lain sebagainya.
Dari hasil analisis juga terungkap strategi Fore untuk mengkombinasikan beberapa subjek dalam satu konten. Kombinasi paling banyak adalah brand ambassador x product.

Grafik 2. Subjek Kampanye #SetiapForePunyaCerita 6 Juni – 21 Juli 2026
Human-centered Emotional Storytelling
Seperti yang disampaikan oleh pihak perusahaan, brand awareness Fore saat ini sudah cukup tinggi. Lalu apa yang sebenarnya ingin diraih lewat campaign ini?
Biasanya semakin besar sebuah brand atau bisnis, tantangan yang dihadapi adalah brand tersebut terasa sepakin korporat dan berjarak. Tidak jarang pelanggan loyal yang dulunya selalu hadir saat brand masih kecil, perlahan melangkah pergi saat brand sudah semakin besar.
Pelanggan awal sering loyal bukan hanya karena produknya, tetapi karena mereka merasa menjadi bagian dari perjalanan brand. Saat brand masih kecil, interaksi terasa lebih personal, komunitas lebih dekat, respons lebih cepat, dan pelanggan merasa kontribusinya terlihat. Ketika brand membesar, hubungan itu sering berubah menjadi lebih formal, massal, dan transaksional. Pelanggan lama kemudian merasa bukan lagi “bagian dari brand”, melainkan hanya salah satu dari jutaan pembeli.
Mungkin, kondisi ini yang membuat Fore merasa perlu menghubungkan ekspansi bisnis dengan pengalaman manusia. Ekpansi bisnis diharapkan tidak membuat rasa personal itu hilang. Narasinya bukan lagi “Fore semakin besar” tapi digeser menjadi “Meski semakin besar, Fore tetap hadir dalam cerita setiap penikmatnya”.
Untuk menjawab persoalan itu, strategi emotional marketing bisa dipilih jadi salah gaco andalan. Emotional marketing adalah sebuah pendekatan yang menggunakan emosi untuk bisa terkoneksi dengan audiens. Biasanya menggunakan emosi seperti rasa senang, sedih, takut, nostalgia, dan jenis emosi lainnya untuk memengaruhi keputusan untuk membeli produk maupun untuk mendorong loyalitas konsumen. Marketing jenis ini biasanya bersandar pada beberapa prinsip seperti gaya storytelling, relatability (relevan dengan audiens), visual and sensorics appeals (rangsangan visual dan sensorik), serta social proof seperti testimonial.
Jika dilihat dari prinsip yang dibutuhkan dan elemen dalam kampanye Setiap Fore Punya Cerita, Fore telah menggunakan strategi emotional marketing yang apik.
| Prinsip Emotional Marketing | Elemen Kampanye |
| Storytelling | Seluruh narasi dalam konten audio visual menggunakan gaya storytelling. |
| Relatability | Menggaris bawahi koneksi emosional konsumen dengan Fore; mood booster, teman perjalanan, dsb |
| Visual and Sensorics Appeal | Video kampanye dengan style film, ConFOREsation card, kartu pos Fore |
| Social Proof | Testimonial dari konsumen, BA, figure terpilih, barista, outlet, pegawai, dsb |
Tabel 2. Analisis Prinspin Emotional Marketing pada Kampanye #SetiapForePunyaCerita di IG Fore Coffee periode 6 Juni – 21 Juli 2026
Apakah antusiasme terhadap ajakan bercerita ini cukup baik?
Fore mengajak warganet untuk menyampaikan cerita terkait Fore. Fore akan memilih 10 cerita terbaik. Fore tidak menyampaikan hadiah apa yang akan didapatkan oleh mereka dengan cerita terbaik, tapi jumlah partisipannya mencapai 870 orang alias 8700 persen dari total pemenang. Tentu saja angka ini sangat tinggi.

Gambar 3. Salah Satu Cerita Konsumen yang Dipilih Fore (Sumber: IG Fore)
Gambar 4. Salah Satu Cerita Konsumen yang Dipilih Fore (Sumber: IG Fore)
Dari cerita-cerita yang disampaikan di atas juga bisa tercermin loyalitas konsumen terhadap brand ini. Meskipun pindah kota, Fore yang semakin besar dan hadir di berbagai kota, tetap jadi tujuan untuk ngopi. Pun secara tak langsung, cerita tersebut mengungkap bahwa Fore telah menjadi teman bertumbuh selama bertahun-tahun. Dari sini terlihat juga bahwa emotional marketing tidak lagi untuk meningkatkan awareness (kesadaran) tapi juga mendorong affinity (rasa suka natural) dan membangun loyality (loyalitas).
Sebetulnya strategi yang digunakan Fore dalam kampanye ini bukanlah emotional marketing belaka. Bisa dibilang Setiap Fore Punya Cerita adalah kampanye berbasis emotional storytelling, experiential marketing, celebrity endorsement, dan listening-based product marketing.
Perihal emotional storytelling dan celebrity endorsement sudah dielaborasi pada paragraf sebelumnya. Kemudian, ada juga experiential marketing (pemasaran lewat pengalaman) yang bermain di sini. Kartu pos Fore dan ConForesation Card menerjemahkan pesan kampanye menjadi pengalaman fisik. Kartu Pos Fore menciptakan pengalaman personal dan memberi kesan bahwa konsumen diperhatikan. Sementara itu, ConForesation Card menjadikan outlet sebagai ruang percakapan, bukan hanya tempat transaksi.
Aktivasi komunitas (Fore Club), cerita outlet, booth konser, serta sponsorship juga memperluas pengalaman dari ranah digital ke ranah langsung. Dari aktivasi ini, bisa dilihat bahwa storytelling diterjemahkan ke dalam interaksi nyata. Interaksi tersebut menjadi pengalaman bersama. Pengalaman bersama tersebut tereproduksi menjadi cerita/emosi baru. Fore tidak hanya menceritakan bahwa setiap orang memiliki cerita, tetapi menyediakan perangkat dan ruang agar cerita baru benar-benar tercipta.
Terakhir, ada listening-based product marketing. Kembalinya Starrycano ditempatkan sebagai bagian dari cerita konsumen dan permintaan terhadap menu lama. Ini merupakan bentuk customer listening marketing, yaitu keputusan produk dibingkai sebagai respons terhadap suara pelanggan.
Strategi ini bekerja pada dua level. Secara emosional, Fore ingin menunjukkan bahwa pelanggan didengarkan. Secara komersial, momentum kampanye digunakan untuk membangun kembali perhatian dan penjualan terhadap produk. Integrasi brand ambassador dengan Starrycano, Butterscotch Sea Salt Latte, dan Ice Americano juga mencegah kampanye menjadi terlalu abstrak karena tetap memiliki hubungan dengan menu yang dapat dibeli.
Pantauan Media
Kampanye Setiap Fore Punya Cerita sudah dimulai sejak 6 Juni 2026 di media sosial, khususnya di Instagram. Pada bagian ini, Jangkara akan mengukur performa kampanye tersebut di media sosial dengan menggunakan tagar #SetiapForePunyaCerita.
Dengan menggunakan alat social listening Socindex, terungkap pada periode 6 Juni-21 Juli 2026 ada 3,3 juta engagement kampanye ini di empat media sosial yakni Instagram, Thread, TikTok, dan Twitter. Percakapan (talk) yang terekam mencapai 1.685. Sementara potensi audiens dari kampanye ini berkisar 7,3 juta akun. Puncak percakapan dan engagement terjadi pada 24 Juni 2026 atau hari penunjukan brand ambassador. Hal ini menunjukkan bahwa brand ambassador menjadi elemen kampanye yang esensial guna mengamplifikasi kampanye ini.

Grafik 3. Statistik Kampanye #SetiapForePunyaCerita di Media Sosial 6 Juni – 21 Juli 2026 (Sumber: Socindex)
Selanjutnya, mari lihat performa kampanye ini di masing-masing platform media sosial. Instagram dan TikTok menjadi platform yang mendominasi. Sementara, performa di Thread dan X tertinggal jauh di belakang.
Dari sisi engagement, TikTok jadi juara dengan angka mencapai 2,6 juta. Sementara engagement di Instagram hanya berkisar 697 ribu saja. Akan tetapi, dari sisi talk (percakapan), Instagram memimpin dengan 1.571 percakapan. Sedangkan di TikTok hanya 83 percakapan yang tercipta.
Data ini menunjukkan fungsi kedua platform berbeda. TikTok unggul sebagai kanal jangkauan dan konsumsi konten, dengan engagement sekitar 3,7 kali lebih besar dibandingkan Instagram. Artinya, format kampanye kemungkinan lebih mudah memperoleh perhatian, ditonton, disukai, atau dibagikan secara cepat di TikTok. Namun, tingginya engagement tersebut belum banyak berkembang menjadi percakapan aktif.
Sebaliknya, Instagram lebih efektif sebagai ruang interaksi dan pembentukan komunitas. Meski engagement-nya lebih rendah, jumlah percakapannya hampir 19 kali lebih tinggi daripada TikTok. Jika dibandingkan dengan total engagement, Instagram menghasilkan sekitar 2,25 percakapan per 1.000 engagement, sedangkan TikTok hanya sekitar 0,03 percakapan per 1.000 engagement. Dengan kata lain, kepadatan percakapan Instagram sekitar 70 kali lebih tinggi.
Dalam konteks kampanye “Setiap Fore Punya Cerita”, hasil Instagram lebih selaras dengan tujuan kampanye yang mengandalkan storytelling, pengalaman personal, dan partisipasi konsumen. TikTok berhasil membuat kampanye terlihat luas, tetapi Instagram lebih mampu mendorong audiens untuk berhenti, merespons, dan ikut menyampaikan cerita. Secara strategis, TikTok berperan sebagai attention generator, sedangkan Instagram berperan sebagai conversation and relationship builder. TikTok memenangkan skala, sedangkan Instagram menunjukkan resonansi yang lebih dalam.

Grafik 4. Statistik Kampanye #SetiapForePunyaCerita di Instagram 6 Juni – 21 Juli 2026 (Sumber: Socindex)

Grafik 5. Statistik Kampanye #SetiapForePunyaCerita di TikTok 6 Juni – 21 Juli 2026 (Sumber: Socindex)

Grafik 6. Statistik Kampanye #SetiapForePunyaCerita di Thread 6 Juni – 21 Juli 2026 (Sumber: Socindex)

Grafik 7. Statistik Kampanye #SetiapForePunyaCerita di Twitter 6 Juni – 21 Juli 2026 (Sumber: Socindex)
Pesan Mana yang Lebih Kuat, Fore atau Selebritis?
Meskipun percakapan cukup tinggi di Instagram, perlu juga untuk melihat kedalaman percakapan tersebut. Apakah benar memang membahas Fore atau hal lain, misalnya sosok brand ambassador. Terlebih berdasarkan pantauan, puncak percakapan terjadi pada saat pengumuman brand ambassador terpilih.

Gambar 5. Pengumuman Fore Coffee Ambassador di Instagram untuk masing-masing brand ambassador (Sumber: IG Fore Coffee)
Oleh karena itu perlu dilakukan analis pada fokus percakapan untuk mengecek pesan apa yang paling banyak muncul dalam percakapan warganet. Untuk melakukan pendalaman ini, Jangkara mengambil random sampling komentar pada unggahan Instagram untuk pengumuman masing, sebanyak 10 persen dari jumlah real komentar di Instagram. Lalu, sampling percakapan tersebut akan dinilai isinya dan dikelompokkan pada tiga pesan yakni pesan terkait Fore, pesan terkait sosok selebritis, dan pesan lainnya. Hasilnya adalah sebagai berikut.

Tabel 3. Analisis Konten Percakapan pada Pengumuman Brand Ambassador di IG Fore
Analisis terhadap konten empat brand ambassador menunjukkan hasil yang positif. Berdasarkan pembobotan sampel, sekitar 70% percakapan berfokus pada Fore, sekitar seperempat membahas sosok selebritas, dan hanya sebagian kecil yang membahas hal lain. Artinya, pemakaian BA tidak membuat Fore tenggelam di balik popularitas figur publik.
Secara keseluruhan, keempat BA berhasil mengarahkan percakapan kepada Fore, bukan hanya pada popularitas selebritas. Syifa Hadju menghasilkan fokus brand paling kuat, sementara konten Sheila Dara masih memiliki ketergantungan paling besar pada daya tarik figur BA.
Epilog
Secara keseluruhan, Setiap Fore Punya Cerita periode 6 Juni – 21 Juli 2026 dapat dinilai sebagai kampanye yang efektif dalam membangun keterlibatan emosional tanpa kehilangan fokus terhadap merek. Fore tidak hanya menggunakan cerita selebritas sebagai daya tarik, tetapi mengintegrasikan cerita konsumen, produk, outlet, komunitas, perangkat pengalaman, dan acara musik dalam satu ekosistem kampanye. Alurnya juga tersusun bertahap, mulai dari pengenalan tema, pengangkatan cerita nyata, peluncuran brand ambassador, aktivasi produk, hingga ajakan kepada konsumen untuk menciptakan cerita mereka sendiri.
Dari sisi platform, TikTok dan Instagram menjalankan fungsi yang berbeda. TikTok menjadi mesin amplifikasi, terlihat dari engagement yang jauh lebih tinggi, sehingga efektif untuk memperluas jangkauan dan menarik perhatian secara cepat. Sebaliknya, Instagram menjadi ruang percakapan dan pendalaman hubungan, karena menghasilkan percakapan yang jauh lebih banyak meskipun engagement totalnya lebih rendah. Ini menunjukkan bahwa TikTok kuat pada tahap awareness, sedangkan Instagram lebih efektif pada tahap engagement mendalam, affinity, dan partisipasi.