Euforia pasar saham Indonesia menyambut tahun baru 2026 tak bertahan lama. Di pengujung Januari 2026, pasar saham Indonesia terpukul oleh pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait rebalancing saham dari Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung anjlok, bahkan perdagangan saham harus dihentikan sementara karena penurunan IHSG mencapai 8%. Sejak saat itu, IHSG terus dalam tren penurunan dan tidak pernah lagi mencapai titik tertingginya. Investor menantikan reformasi pasar saham sebagaimana disyaratkan oleh MSCI.
Pengumuman MSCI pada 12 Mei 2026 malam waktu London atau Rabu (13/5) dini hari menjadi salah satu yang dinantikan investor. Mereka ingin melihat sejauh mana dampak reformasi pasar modal yang sudah dilakukan setelah gonjang-ganjing akibat pengumuman MSCI pada 28 Januari 2026. Menjelang pengumuman MSCI, IHSG pada Selasa (12/5) ditutup melemah 0,92% ke level 6.905,62.
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi meminta investor tidak panik menjelang pengumuman MSCI. Menurutnya, regulator telah mengantisipasi berbagai kemungkinan dari evaluasi tersebut, termasuk perubahan bobot dan keluarnya emiten Indonesia dari indeks MSCI.
Friderica pun ancang-ancang mengingatkan investor bahwa ada kemungkinan beberapa saham Indonesia justru dikeluarkan dari indeks tersebut. Akan ada konsekuensi pelemahan terhadap IHSG, tetapi menurutnya dampaknya terhadap IHSG tidak akan berkepanjangan. Dampak jangka pendeknya dapat dipahami. Namun, kata Friderica, OJK meyakini reformasi pasar modal yang sudah dilakukan akan memberikan dampak secara jangka panjang.

Gambar 1. Pergerakan IHSG Year to Date (Sumber: Tradingview)
18 Saham RI Terdepak
Proyeksi OJK tersebut memang sejalan dengan hasil May 2026 Index Review untuk MSCI Equity Indexes. Pada review-nya, MSCI tidak menambah emiten Indonesia baru dalam MSCI Global Standard Index. Sebaliknya, MSCI mengeluarkan enam saham dalam MSCI Global Standard Indexes, dan 13 saham dari MSCI Small Cap Indexes. Namun, terdapat 1 saham dari Indonesia di MSCI Global Standard Indexes yang diturunkan ke MSCI Small Cap Indexes yakni saham PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT). Sehingga total saham yang dikeluarkan dari indeks MSCI berjumlah 18.
Daftar 6 saham Indonesia yang dihapus dari MSCI Global Standard Index:
1. PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN)
2. PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN)
3. PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA)
4. PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA)
5. PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN)
6. PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT).
Daftar 13 saham Indonesia yang dihapus dari MSCI Global Small Cap Index:
1. Aneka Tambang (ANTM)
2. Astra Agro Lestari (AALI)
3. Bank Aladin Syariah (BANK)
4. Bumi Serpong Damai (BSDE)
5. Dharma Satya Nusantara (DSNG)
6. Industri Jamu Farmasi Sido Muncul (SIDO)
7. Midi Utama Indonesia (MIDI)
8. Mitra Keluarga Karyasehat (MIKA)
9. MNC Digital Entertainment (MSIN)
10. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia (TKIM)
11. Pacific Strategic Financial (APIC)
12. Sawit Sumbermas Sarana (SSMS)
13. Triputra Agro Persada (TAPG).
Setelah pengumuman MSCI, IHSG pada Rabu (13/5) ditutup melemah 1,98% ke level 6.723,32. Volume transaksi tercatat 38,94 miliar dengan nilai transaksi sebesar Rp 19,79 triliun. Investor asing mencatat jual bersih atau net sell sebanyak Rp 1,53 triliun, menurut data perdagangan RTI Business. Senior Technical Analyst PT Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengatakan aksi jual investor asing terjadi karena hilangnya daya tarik pada saham-saham tersebut. Para investor asing juga menjadikan MSCI sebagai tolok ukur investasinya terhadap saham-saham Indonesia.
Hasil rebalancing MSCI Mei 2026 ini sebenarnya dinilai sejalan dengan ekspektasi pasar yakni freeze dipertahankan, sehingga tidak ada penambahan saham dari Indonesia ke MSCI Global Standard Indexes. MSCI mengeksekusi deletion atas saham dalam daftar high shareholding concentration (HSC), serta penyesuaian free float yang berdampak pada beberapa konstituen non-HSC. Namun, pengumuman MSCI dinilai belum menjadi katalis positif. Menurut Stockbit Sekuritas, pelaku pasar selanjutnya menanti kepastian arah status Indonesia di indeks global, terutama berkaitan dengan risiko turunnya Indonesia ke frontier market.
Perhatian pasar bergeser ke MSCI Market Accessibility Review yang akan dirilis Juni. Agenda tersebut dinilai lebih substansial dibandingkan rebalancing indeks Mei, karena berisi keputusan mengenai pembekuan FIF/NOS (Foreign Inclusion Factor/Number of Shares), penambahan ke IMI, dan migrasi size segment untuk review berikutnya pada Agustus 2026. Keputusan ini menjadi penting karena pasar menunggu penegasan bahwa risiko penurunan statis Indonesia dari emerging market menjadi frontier market sudah tidak lagi menjadi ancaman.
Sementara OJK juga berjanji untuk mengawal sejumlah emiten potensial untuk masuk dalam konstituen indeks yang disediakan oleh penyedia indeks global. Hasan Fawzi mengatakan, regulator telah melakukan kalkulasi terhadap sejumlah saham yang secara kuantitatif berpotensi masuk ke dalam indeks global seperti MSCI Inc. OJK, BEI, dan asosiasi terkait akan mendorong emiten-emiten untuk memenuhi seluruh parameter yang ditetapkan penyedia indeks global, tidak hanya dari sisi kapitalisasi pasar dan free float, tetapi juga aspek integritas dan transparansi.
Gonjang-Ganjing Setelah Pengumuman MSCI
MSCI merupakan penyedia indeks saham global yang menjadi acuan utama alokasi aset manajer investasi dunia. Indeks MSCI menjadi kiblat standar bagi hedge fund dalam menyusun strategi portofolio investasi global. Sejak diluncurkan tahun 1969, MSCI mengelola lebih dari 246.000 indeks yang mencakup berbagai wilayah geografis dan jenis aset. Salah satu yang populer adalah MSCI Emerging Market Index yang melacak kinerja saham di negara berkembang.
Untuk memastikan indeks relevan dengan kondisi pasar terkini, MSCI melakukan peninjauan setiap kuartal. Setelah peninjauan, MSCI akan menambah atau menghapus saham konstituen agar representasi ekonomi tetap akurat. Perombakan komposisi indeks MSCI biasanya diikuti penyesuaian aset secara langsung oleh manajer investasi global. Artinya, setiap ada penyesuaian dari MSCI akan memicu gelombang jual atau beli secara masif di bursa. Triliunan dolar dana yang mengacu pada indeks ini akan bergerak otomatis mengikuti perubahan bobot. Mekanisme ini menjadikan MSCI sebagai salah satu penentu arus modal paling kuat di dunia finansial.
Inilah yang terjadi pada Januari 2026, saat MSCI melakukan rebalancing atas saham-saham Indonesia dan langsung memukul pasar saham. MSCI menangguhkan sejumlah perubahan terkait indeks untuk saham-saham Indonesia, untuk rebalancing periode Februari 2026. Penangguhan ini membuat bobot Foreign Inclusion Factor (FIF) bagi saham Indonesia tak berubah, tidak ada saham Indonesia yang masuk ke MSCI Investable Market Indexes (IMI), dan tidak ada perubahan ukuran saham Indonesia dari Small Cap ke Standard.
Kebijakan tersebut bertujuan menekan index turnover dan risiko kelayakan investasi sekaligus memberi waktu bagi otoritas pasar terkait untuk meningkatkan transparansi yang berarti. MSCI menanti perubahan yang signifikan dari Indonesia hingga Mei 2026, dan tetap membuka masukan dari pelaku pasar. Jika tidak ada perubahan yang signifikan, bobot saham Indonesia dalam MSCI Emerging Markets Indexes akan diturunkan. Selain itu, MSCI membuka kemungkinan reklasifikasi status Indonesia dari emerging market menjadi frontier market.
Hal-hal yang dipermasalahkan MSCI antara lain kurangnya transparansi struktur kepemilikan saham dan jumlah free float atau saham yang diperdagangkan ke publik. Kemudian ada kekhawatiran atas kemungkinan perilaku perdagangan terkoordinasi yang dapat mengganggu pembentukan harga wajar.
“Jika hingga Mei 2026 tidak ada kemajuan yang cukup dalam peningkatan transparansi, MSCI akan meninjau ulang status aksesibilitas pasar Indonesia,” tulis MSCI.
Tanpa adanya tindak lanjut dari otoritas pasar, maka bobot seluruh sekuritas Indonesia dalam MSCI Emerging Markets Indexes akan diturunkan. Jika ini terjadi, maka Indonesia berpotensi turun tingkat dari emerging market (pasar berkembang) menjadi frontier market (pasar perbatasan).
Pasar merespons negatif pengumuman MSCI tersebut. IHSG pada 28 Januari anjlok tajam, saat dibuka ambles 6,53% ke level 8.393,51. Memasuki sesi II, IHSG semakin anjlok dengan penurunan mencapai 8% sehingga memicu trading halt atau pembekuan sementara perdagangan. IHSG mencatat penurunan yang paling tajam di Asia pada hari itu.
Direktur Utama BEI saat itu, Iman Rahman mengatakan, investor merespons pengumuman MSCI dengan panic selling. BEI berusaha menenangkan pasar dengan berjanji akan memenuhi ketetapan MSCI, melalui koordinasi bersama KSEI dan OJK.
Jumat pagi (30/1), Iman Rachman mengundurkan diri. Ia menyebut pengunduran dirinya sebagai bentuk tanggung jawabnya sebagai Dirut BEI. Sore harinya, giliran Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar turut mengumumkan pengunduran diri, disusul Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Inarno Djajadi. Selanjutnya Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK Mirza Adityaswara; Deputi Komisioner Pengawas Emiten, Transaksi Efek, Pemeriksaan Khusus, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon I.B. Aditya Jayaantara juga turut mengumumkan pengunduran diri.
Gelombang pengunduran pejabat BEI dan OJK membuat pasar gusar. Pemerintah pun langsung menggelar rapat untuk mengatasi keadaan. Kamis (29/1/2026), Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menggelar pertemuan bersama sejumlah pejabat seperti Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Gubernur BI Perry Warjiyo. Airlangga menyebut pertemuan tersebut sebagai momentum untuk mereformasi regulasi pasar modal Indonesia.
Selanjutnya, Airlangga mengumumkan sejumlah kebijakan terkait pasar modal, di antaranya percepatan penambahan batas minimal free float 15%. Pemerintah juga akan mendorong kenaikan batas investasi untuk perusahaan dana pensiun (dapen) dan asuransi menjadi 20% dari semula 8%. Kebijakan lainnya adalah percepatan demutualisasi Bursa Efek Indonesia (BEI) sebagai bentuk transformasi struktural demi mencegah praktik pasar modal yang tidak sehat.
Berbagai isu krusial yang menjadi concern MSCI akhirnya menjadi perhatian pemerintah, setelah pasar guncang. Padahal, isu krusial yang disampaikan MSCI sebenarnya bukan hal yang baru karena telah bergulir sejak Oktober 2025. MSCI membuka diskusi dan masukan untuk mengubah metodologi perhitungan free float saham-saham di Indonesia hingga Desember 2025, sebelum akhirnya diumumkan pada Januari 2026.
Iman Rahman mengakui, BEI dan KSEI sempat bertemu dengan MSCI di Amerika Serikat pada pertengahan Januari. BEI dan KSEI mengatakan butuh waktu dan pengembangan untuk memproses data, sebagaimana permintaan MSCI. Menurutnya, otoritas bursa tetap berupaya memenuhi apa yang menjadi syarat MSCI. Namun pada saat yang sama, BEI juga menyampaikan keberatan atas metode pembobotan baru dan meminta MSCI untuk memberikan perlakuan yang sama terhadap bursa saham di negara lain. BEI menilai MSCI juga kurang spesifik dalam menyampaikan syarat yang diminta, sehingga BEI harus meraba-raba, bahkan turut berkonsultasi dengan FTSE, sebelum akhirnya MSCI mengumumkan pembekuan pada 28 Januari.
CIO Danantara Pandu Sjahrir turut bersuara atas gejolak yang terjadi di pasar modal. Pandu mengaku telah bertemu dengan jajaran direksi MSCI. Menurutnya, masukan dari MSCI sudah sangat jelas sehingga jika regulator pasar modal tidak bertindak, konsekuensinya jelas bahwa bursa saham Indonesia akan turun kasta. Indonesia akan masuk frontier market, bersama dengan Bangladesh, Burkina Faso, Niger, Pakistan, Senegal, Togo. Jika hal itu terjadi, Pandu memperkirakan berkurangnya likuiditas IHSG hingga US$25-US$50 miliar. Kondisi itu tentu meresahkan Danantara yang menargetkan pasar saham Indonesia sebagai salah satu tempat investasi.
Reformasi Pasar Modal
Reformasi pasar modal menjadi satu-satunya jalan agar Indonesia tidak terdepak dari indeks MSCI. OJK, BEI, hingga Danantara gotong royong untuk mengembalikan kepercayaan investor global melalui delapan aksi reformasi pasar modal.
Friderica Widyasari yang ditunjuk menjadi Pjs Ketua Dewan Komisioner OJK setelah pengunduran diri para pejabat OJK, langsung mengumumkan langkah-langkah perbaikan. Dalam konferensi persnya Minggu, 1 Februari 2026, ia menyatakan reformasi pasar modal akan dipercepat melalui delapan rencana aksi agar selaras dengan best practices internasional, sekaligus mampu menjawab ekspektasi para penyedia indeks global. Delapan rencana aksi tersebut diharapkan bisa menjadikan pasar modal Indonesia semakin kredibel dan layak diinvestasikan sehingga dapat memberikan dukungan optimal bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Delapan rencana aksi percepatan reformasi integritas pasar modal Indonesia difokuskan pada empat pilar utama yakni likuiditas, transparansi, tata kelola dan penegakan hukum, serta sinergitas antar pemangku kepentingan.
MSCI selanjutnya melakukan evaluasi atas reformasi yang dilakukan otoritas pasa Indonesia. Pada 20 April, MSCI memberikan pengumuman mengenai Update on Free Float Assessment of Indonesian Securities. MSCI menyatakan bahwa belum ada penambahan saham Indonesia dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI) pada periode review-nya kali ini, karena proses evaluasi terhadap transparansi dan aksesibilitas pasar masih berlangsung.
Kepala Eksekutif Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi mengatakan, pengumuman tersebut menegaskan bahwa MSCI telah mencatat dan mengakui berbagai langkah strategis yang telah dilakukan oleh OJK bersama BEI dan KSEI dalam rangka memperkuat transparansi dan integritas pasar modal Indonesia. Inisiatif-inisiatif reformasi pasar modal yang mendapat perhatian MSCI antara lain adalah peningkatan transparansi kepemilikan saham di atas 1 persen, penguatan granularitas klasifikasi investor, implementasi kerangka kerja High Shareholding Concentration (HSC), dan peningkatan batas minimum free float.
Sementara itu, Friderica menyatakan, pengakuan awal MSCI terhadap reformasi transparansi pasar modal nasional merupakan sinyal positif atas arah kebijakan yang ditempuh Indonesia.
“Ke depan, implementasi langkah-langkah reformasi akan terus dijaga agar berjalan secara konsisten, terukur, dan berkelanjutan, serta diperkuat melalui koordinasi aktif dengan berbagai pihak, termasuk pelaku pasar global,” katanya.
Pantauan Media
Rebalancing MSCI menjadi topik yang banyak dibahas media menjelang pengumuman pada 12 Mei. Dengan menggunakan Newstensity, terpantau 4.983 pemberitaan dengan topik yang berkaitan dengan MSCI pada periode 1-14 Mei 2026.
Awal Mei, media belum masif membahas topik ini. Ulasan media lebih banyak berkaitan dengan prediksi IHSG selama Mei, dengan faktor-faktor yang memengaruhi pergerakannya selama sebulan ke depan, salah satunya pengumuman MSCI pada 12 Mei. Pemberitaan terus meningkat hingga akhirnya mengalami lonjakan pada 11 Mei, saat media mulai mengaitkan MSCI sebagai faktor penting dalam pergerakan IHSG. Pergerakan pemberitaan terus meningkat tajam, terutama dengan adanya pernyataan dari OJK berkaitan dengan antisipasi pengumuman MSCI.
Puncak pemberitaan terjadi pada 13 Mei, setelah pengumuman MSCI dirilis. Beberapa topik yang dibahas media terkait topik ini antara lain berkaitan dengan detail pengumuman, efek terhadap pergerakan IHSG, serta pernyataan dari OJK dan BEI.

Gambar 2. Timeline pergerakan pemberitaan dengan topik rebalancing MSCI (Sumber: Newstensitu)
Topik lain yang banyak dibahas adalah saham-saham yang masuk dalam daftar yang dikeluarkan MSCI. Media mengulas dampak keluarnya emiten dari daftar MSCI. Salah satu yang banyak dibahas media adalah saham dari emiten-emiten milik taipan Prajogo Pangestu yakni PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN). Media mengulas, pengumuman MSCI menyebabkan kekayaan Prajogo Pangestu turun hingga 8,76% atau 1,8 miliar dolar AS per 14 Mei 2026. Forbes mencatat kekayaan Prajogo sebesar 18,6 miliar dolar AS.
Sementara PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) juga mendapatkan banyak coverage media setelah merilis pernyataan, usai keluar dari daftar indeks MSCI. Dalam pernyataannya kepada media, ANTM menyebut dinamika pasar sebagai bagian dari mekanisme pasar global yang wajar. Menurut Corporate Secretary ANTM Wisnu Danandi Haryanto, perusahaan tetap fokus menjaga fundamental bisnis, memperkuat operational excellence, serta memastikan keberlanjutan strategi pertumbuhan jangka panjang.

Grafik 3. Sentimen pemberitaan terkait topik rebalancing MSCI (Sumber: Newstensity)
Dari 4.983 pemberitaan, 54 persen di antaranya merupakan pemberitaan dengan sentimen positif. Pemberitaan dengan tone positif terutama menyangkut proses reformasi pasar modal Indonesia yang masih berjalan, dan diharapkan memberikan sentimen positif secara jangka panjang. Sementara 39 persen pemberitaan mendapatkan sentimen negatif, sehubungan dengan penurunan IHSG dan terjadinya aksi nett sell merespons pengumuman MSCI. Sentimen negatif juga berkaitan dengan sejumlah saham yang mengalami aksi tekan jual dengan adanya pengumuman MSCI.

Grafik 4. Top Narasumber topik MSCI (Sumber: Newstensity)
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari menjadi narasumber yang banyak dikutip media pada topik ini. Ia menjadi salah satu tokoh kunci berkaitan dengan reformasi pasar modal Indonesia sebagaimana disyarakatkan MSCI. Demikian pula Hasan Fawzi dan Pjs Dirut BEI Jeffrey Hendrik. Sementara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping juga menjadi narasumber yang banyak dikutip karena berbagai kebijakannya turut memengaruhi pergerakan pasar saham di Indonesia. Kedua tokoh pemimpin negara tersebut turut disebut karena secara umum pemberitaan pergerakan saham dan juga IHSG dipengaruhi oleh berbagai sentimen baik internal maupun eksternal. Selama periode pantauan, kedua pemimpin negara ini menjadi tokoh sentral dalam upaya mencapai kesepakatan yang akan memberikan pengaruh luas pada kebijakan ekonomi kedua negara.
Penutup
Pasar telah “memfaktorkan” hasil rebalancing MSCI sebagaimana diumumkan pada 12 Mei, sehingga harga dirasa sudah priced in. Kali ini, guncangan pasar tidak terlalu hebat sebagaimana pada Januari lalu. Hal ini sehubungan dengan rangkaian reformasi pasar modal yang sudah dilakukan oleh OJK dan juga BEI. Ke depan, investor menantikan sejauh mana realisasi dari reformasi pasar modal Indonesia akan memberikan dampaknya: mempertahankan posisi Indonesia saat ini di emerging market ataukah turun ke frontier market?